Salah satunya adalah Opik, pedagang tampak menggelar lapak di pinggir jalan, menjajakan bendera Merah Putih, umbul-umbul, dan beragam atribut perayaan

Merah Putih, Rezeki Pedagang Musiman Tenggarong

TENGGARONG — Menyambut bulan kemerdekaan, warna merah putih mulai mendominasi sudut-sudut jalan di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Tak hanya semangat nasionalisme yang tumbuh, geliat ekonomi warga pun ikut menggeliat. Salah satunya tampak dari ramainya lapak pedagang musiman yang menjajakan atribut perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

Sejumlah pedagang musiman mulai menggelar lapaknya di pinggir jalan, menawarkan bendera Merah Putih, umbul-umbul, dan beragam ornamen khas 17-an. Salah satunya adalah Opik (40), perantau asal Bandung yang sudah menetap di Tenggarong sejak 2007. Sejak 2013, Opik rutin menjual bendera setiap menjelang bulan Agustus.

“Tahun ini saya pindah ke Jalan Jenderal Sudirman karena tempat biasa saya di Jalan S. Parman sedang ada proyek pembangunan,” tuturnya saat ditemui di lapaknya, Senin (29/7).

Opik membawa sekitar 500 lembar bendera dan berbagai pernak-pernik kemerdekaan lainnya dari Bandung. Barang dagangannya beragam, mulai dari bendera standar seharga Rp35 ribu hingga Rp45 ribu, hingga bendera ukuran panjang yang mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per lembar. Umbul-umbul dan aksesori lainnya juga tersedia di lapaknya.

Meski begitu, tahun ini ia mengaku omzet menurun. “Hari ini baru dapat Rp400 ribu. Kalau sedang ramai bisa sampai Rp1 juta lebih per hari. Tapi kadang cuma Rp300 ribu,” ucapnya.

Semua produk yang dijual Opik dibeli langsung dari produsen di Bandung. Jika tidak habis terjual, risiko kerugian ia tanggung sendiri. “Kalau enggak laku, ya kami tanggung sendiri ke produsen. Untung per bendera kadang cuma Rp3 ribu,” ujarnya.

Meski dihadapkan pada tantangan, ia tetap optimistis bisa meraup rezeki dari momen tahunan ini. Terlebih tahun ini, pemerintah kembali meluncurkan program Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih secara serentak di seluruh Indonesia.

“Saya harap program itu tetap melibatkan pedagang kecil seperti kami. Mudah-mudahan beli langsung di lapak, jangan semuanya dibagikan lewat online,” harapnya.

Meski dihadapkan pada tantangan omzet dan ketidakpastian penjualan, para pedagang seperti Opik tetap menjaga semangatnya. Bagi mereka, bulan Agustus bukan sekadar perayaan, tetapi juga harapan akan keberkahan rezeki. Program pembagian bendera oleh pemerintah pun diharapkan bisa bersinergi, bukan menyingkirkan. Di balik setiap lembar merah putih yang dijajakan, tersimpan usaha kecil yang ingin tetap hidup di tengah gegap gempita kemerdekaan.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?