TENGGARONG – Di balik perbukitan hijau Kecamatan Sebulu, tersimpan kisah alam yang menakjubkan. Desa Sanggulan, yang dulunya hanya dikenal sebagai kawasan pedesaan biasa, kini mulai mencuri perhatian sebagai rumah bagi tiga goa eksotis: Goa Binuang, Goa Labirin, dan Goa Tanjak Langit.
Ketiganya tidak hanya menawarkan keindahan alam bawah tanah, tetapi juga pengalaman petualangan yang sarat edukasi geologi dan konservasi lingkungan.
Inisiatif pengembangan kawasan ini datang dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Benua Raya, yang sejak beberapa tahun terakhir aktif menggali potensi alam Sanggulan menjadi destinasi ekowisata minat khusus.
Ketua Pokdarwis, Sopian, menyebut ketiga goa tersebut memiliki daya tarik yang berbeda, namun tetap berpijak pada prinsip keselamatan dan pelestarian alam.
“Yang ditonjolkan sekarang ini wisata goa. Kita punya Goa Binuang, Goa Labirin, dan Goa Tanjak Langit,” ujarnya, Selasa (8/7/2025).
Dari ketiganya, Goa Binuang menjadi ikon utama. Pengunjung diajak menelusuri sungai bawah tanah sepanjang sekitar 300 meter dengan kondisi yang menantang. Karena jalurnya licin dan berair, wisata ini termasuk kategori minat khusus, di mana wisatawan wajib menggunakan perlengkapan keselamatan seperti helm, jaket pelampung, senter, dan wearpack.
Selama perjalanan, pemandu bersertifikat akan menemani untuk memastikan setiap langkah tetap aman.
“Susur goa tidak bisa sembarangan. Jalurnya basah dan licin, jadi wajib safety. Kita pandu dan wajib pakai lengan panjang,” tegas Sopian.
Bagi yang tidak ingin terlalu ekstrem, tersedia jalur goa kering yang lebih santai. Di dalamnya, stalaktit dan stalagmit berdiri megah membentuk pemandangan alami yang menakjubkan. Pemandu lokal akan menjelaskan proses terbentuknya batuan tersebut dan kisah unik di balik setiap lekukan dinding goa.
Harga tiket cukup terjangkau, yakni Rp50.000 per orang untuk jalur reguler dan Rp150.000 bagi yang ingin mencoba petualangan susur sungai bawah tanah. Sistem kunjungan masih berbasis reservasi, menyesuaikan kesiapan tim Pokdarwis di lapangan.
Selain wisata goa, Sanggulan juga menghadirkan pengalaman berkemah di alam terbuka. Area camping disiapkan dengan fasilitas dasar seperti toilet, tempat istirahat, dan titik api unggun. Aktivitas ini memberi kesempatan bagi wisatawan untuk menikmati malam di tengah keheningan alam pedalaman Sebulu.
“Area camping kami sediakan bagi yang ingin lebih dekat dengan alam. Fasilitasnya cukup untuk beristirahat dan menikmati malam di sekitar goa,” kata Sopian.
Popularitas kawasan ini mulai meningkat setelah diperkenalkan lewat kegiatan Mahakam Explore 2022, kemudian diperkuat promosi komunitas Borneo Venture pada 2024. Meski demikian, Pokdarwis tetap mengutamakan keselamatan dan kelestarian.
Kegiatan susur goa akan ditunda jika cuaca buruk, mengingat aliran sungai di dalam goa sangat dipengaruhi oleh curah hujan.
“Kalau pagi hujan, atau cuaca mendung berat, kami tunda kegiatan. Air bisa naik sewaktu-waktu,” jelasnya.
Saat ini, dua anggota Pokdarwis telah mengantongi sertifikasi pemandu wisata, menandai langkah serius dalam mengelola wisata berbasis komunitas secara profesional.
Lebih dari sekadar tempat rekreasi, wisata goa di Sanggulan adalah ruang belajar tentang hubungan manusia dan alam. Di kedalaman batuan purba, pengunjung menemukan bukan hanya keindahan visual, tapi juga pesan tentang tanggung jawab menjaga bumi.
Dengan potensi besar yang terus dikembangkan, Goa Binuang dan kawasan sekitarnya kian menunjukkan bahwa Kukar tidak hanya kaya sumber daya alam di permukaan, tapi juga menyimpan keajaiban di bawah tanah tempat petualangan, ilmu, dan kearifan lokal berpadu dalam harmoni.



