Bebaca.id, TENGGARONG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai melakukan berbagai persiapan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino, khususnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kukar, Abdal, mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan persiapan standar dengan mengoptimalkan kesiapsiagaan personel dan peralatan.
“Kami masih persiapan standar, personel siaga 24 jam. Peralatan seperti mobil pemadam, pompa pemadam baik yang mobile maupun portabel sudah kami siapkan untuk mengantisipasi kebakaran,” ujarnya.
Selain itu, BPBD Kukar juga telah menyampaikan imbauan kepada pemerintah kecamatan dan desa agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang dipicu musim kemarau.
Pihaknya juga berencana memperkuat koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Dinas Kehutanan dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), khususnya terkait rencana patroli pencegahan karhutla. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan.
“Untuk kegiatan patroli bersama, itu masih akan kami bicarakan lebih lanjut dengan pihak kehutanan dan KPHP,” tambahnya.
Dalam waktu dekat, BPBD Kukar juga dijadwalkan mengikuti rapat koordinasi bersama BPBD Provinsi Kalimantan Timur dan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) guna membahas kesiapsiagaan karhutla.
Terkait potensi El Nino, Abdal menjelaskan berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi panas ekstrem di wilayah Kalimantan Timur, khususnya Kukar, diperkirakan mulai terasa pada Juni mendatang.
“Untuk April dan Mei belum terlalu mengkhawatirkan. Puncak panas diprediksi terjadi di bulan Juni, namun persiapan tetap harus dilakukan sejak dini,” jelasnya.
Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, sejumlah wilayah di Kukar yang rawan terjadi karhutla antara lain Kecamatan Muara Kaman, Samboja, Muara Badak, Kota Bangun Darat, dan Kota Bangun.
Selain ancaman karhutla, BPBD Kukar juga mewaspadai potensi kekeringan akibat kemarau berkepanjangan. Tahun sebelumnya, beberapa wilayah seperti Loa Kulu dan Sebulu mengalami kesulitan air bersih hingga membutuhkan distribusi air ke warga.
“Kalau kemarau panjang, potensi kekeringan pasti ada. Tahun lalu kami sudah membantu distribusi air bersih ke masyarakat di beberapa wilayah,” katanya.
Meski demikian, BPBD Kukar memastikan kesiapsiagaan tetap optimal dengan mengandalkan sumber daya yang ada. Hingga saat ini belum ada penambahan unit peralatan, namun koordinasi dengan relawan dan instansi terkait terus diperkuat.
“Kami maksimalkan yang ada dan tidak bekerja sendiri. Kami juga berkoordinasi dengan relawan serta Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, termasuk UPT seperti KPHP yang wilayah kerjanya di Kukar,” pungkasnya.



