Bebaca.id, TENGGARONG – Kondisi infrastruktur jalan di Desa Rantau Hempang, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menuai keluhan warga karena mengalami kerusakan yang semakin parah.
Jalan yang menjadi jalur utama mobilitas masyarakat tersebut dilaporkan rusak berat, terutama saat hujan turun. Berdasarkan informasi yang diperoleh, sekitar 16 kilometer ruas jalan desa dalam kondisi tidak layak.
Sebagian besar jalan masih berupa tanah, sehingga menyulitkan kendaraan melintas, terlebih ketika permukaan berubah menjadi berlumpur.
Kepala Desa Rantau Hempang, Maman Sulaiman, menjelaskan bahwa jalan penghubung antara Rantau Hempang dan Desa Selerong memiliki panjang kurang lebih 14 kilometer. Dari total itu, titik kerusakan terparah berada di beberapa bagian, khususnya di ruas Benua Pohon hingga mendekati Selerong sepanjang sekitar 6 kilometer.
“Ketika hujan, jalan sebenarnya masih bisa dilewati, tetapi harus dengan usaha ekstra karena kondisinya sangat memprihatinkan,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menuturkan, akses tersebut awalnya dibuka secara swadaya oleh masyarakat pada awal tahun 2000-an karena belum adanya jalur penghubung di wilayah tersebut. Setelah diusulkan ke pemerintah daerah, pembangunan dilakukan secara bertahap.
Pada 2005–2006, pembukaan jalan sepanjang sekitar 16,5 kilometer terealisasi dengan anggaran awal Rp8,7 miliar. Kemudian pada 2008–2009 dilakukan peningkatan jalan menggunakan agregat dengan anggaran sekitar Rp23 miliar. Upaya semenisasi sempat dilakukan pada 2013–2014, namun belum menjangkau seluruh ruas hingga ke Selerong.
Maman menegaskan, jalan tersebut memiliki peran vital sebagai jalur alternatif yang lebih efisien bagi masyarakat menuju sejumlah wilayah, termasuk akses ke Tenggarong melalui Selerong dan Mangkurawang.
“Melalui jalur ini, jarak tempuh hanya sekitar 50 kilometer. Sementara jika memutar lewat Kota Bangun menuju Tenggarong, jaraknya bisa mencapai 97 kilometer,” jelasnya.
Selain digunakan warga, jalan tersebut juga dilalui kendaraan perusahaan dan angkutan kelapa sawit. Aktivitas tersebut dinilai turut mempercepat kerusakan, terutama saat musim hujan.
Pemerintah desa telah mengimbau agar kendaraan bertonase berat tidak melintas saat kondisi jalan basah. Namun, imbauan tersebut kerap diabaikan dengan alasan operasional.
“Kami sempat berencana menutup sementara, tetapi tidak memungkinkan karena ini merupakan akses umum,” katanya.
Dengan kondisi yang ada, pemerintah desa bersama masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan menyeluruh tanpa adanya kepentingan tertentu.
“Harapannya ada kesungguhan dari pemerintah untuk membangun secara merata, karena ini menyangkut kepentingan masyarakat luas, khususnya di wilayah hulu Kukar,” tutupnya.
Foto : Kades Rantau Hempang



