Bebaca.id, TENGGARONG – Isu kesehatan mental kian mendapat sorotan di kalangan generasi muda di Kutai Kartanegara (Kukar). Menanggapi kondisi tersebut, Psikolog Klinis UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kukar, Sabrina Hasyyati Maizan, menekankan pentingnya edukasi yang tepat agar fenomena ini tidak menimbulkan dampak lanjutan.
Ia menilai, tanpa pemahaman yang memadai, tren diagnosis mandiri atau self-diagnose justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis individu. Fenomena ini, menurutnya, tidak terlepas dari pesatnya perkembangan teknologi serta derasnya arus informasi, khususnya melalui media sosial.
Akses informasi yang luas mendorong banyak anak muda mencoba mengenali kondisi mentalnya secara mandiri. Namun, langkah tersebut kerap dilakukan tanpa dasar pengetahuan yang cukup.
“Selama ini, kesehatan fisik sering dianggap lebih penting, padahal keduanya saling berkaitan,” ujar Sabrina saat ditemui di Mall Pelayanan Perempuan dan Anak, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan emosi, tetapi juga memengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Selain itu, lingkungan digital dinilai turut memperkuat tekanan psikologis, terutama melalui kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Gambaran kehidupan “ideal” di media sosial kerap tidak sejalan dengan realitas yang dialami.
“Ketika seseorang terus membandingkan diri dengan sudut pandang negatif, hal itu dapat menurunkan konsep diri,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat memicu perasaan tidak berharga hingga berujung pada kecemasan dan depresi. Jika berlangsung dalam jangka panjang, hal ini berpotensi mengganggu fungsi sosial serta aktivitas harian individu.
Di sisi lain, fenomena self-diagnose juga menjadi perhatian serius. Banyak anak muda yang menyimpulkan kondisi mentalnya hanya berdasarkan informasi di internet tanpa melalui asesmen profesional.
“Ketika seseorang mencari gejala di internet lalu langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan berat, itu bisa memicu stres berlebih,” jelasnya.
Ia mengingatkan, diagnosis yang tidak akurat justru dapat memperburuk kondisi psikologis, bahkan dalam beberapa kasus dapat mendorong munculnya perilaku berisiko, seperti menyakiti diri sendiri.
Karena itu, Sabrina menegaskan pentingnya pendampingan profesional dalam penanganan kesehatan mental. Melalui proses yang tepat, individu dapat memahami kondisinya secara menyeluruh sekaligus memperoleh penanganan yang sesuai.
“Dengan bantuan profesional, individu akan dibimbing untuk memahami kondisinya dan mendapatkan penanganan yang tepat,” ujarnya.
Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak ragu mencari bantuan, baik kepada psikolog, konselor, maupun orang terdekat yang dipercaya. Dukungan lingkungan dinilai menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya meningkatkan kepedulian sosial di lingkungan sekitar agar tanda-tanda gangguan mental dapat dikenali lebih dini, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Sabrina berharap, edukasi terkait kesehatan mental terus diperkuat sehingga masyarakat tidak hanya memiliki kesadaran, tetapi juga memahami langkah penanganan yang benar.
“Dengan meningkatnya kesadaran, diharapkan individu dan lingkungan sosial dapat bersama-sama menjaga kesehatan mental secara berkelanjutan,” pungkasnya.



