Bebaca.id, TENGGARONG – Tekad untuk mengharumkan nama Kutai Kartanegara (Kukar) di ajang Indonesia Muaythai Championship (IMC) 2026 mendorong para atlet muda berjuang di tengah keterbatasan. Salah satunya Al Risky, atlet muay thai cilik yang rela bekerja sebagai badut demi mengumpulkan biaya keberangkatan ke kejuaraan nasional.
Kisah tersebut diungkapkan Pembina sekaligus Pelatih Arkan Sport Management, Rony Abdurrahman. Ia mengatakan seluruh atlet yang akan tampil di IMC 2026 harus berangkat secara mandiri karena belum adanya dukungan anggaran.
“Kalau memang dana pemerintah tidak ada, ya kami berangkat mandiri. Yang penting anak-anak tetap bisa bertanding,” kata Rony saat dihubungi.
Rony menjelaskan, semula ia hanya berencana memberangkatkan putranya, Angkasa, ke kejuaraan tersebut. Namun setelah melihat adanya nomor pertandingan yang sesuai, ia memutuskan menambah satu atlet lagi, yakni Kalista.
Kesempatan kemudian dibuka kepada atlet lain yang bersedia menanggung biaya sendiri. Diego menyatakan siap berangkat secara mandiri, sedangkan Al Risky memiliki cerita berbeda.
Menurut Rony, ibu Al Risky sempat mengaku tidak memiliki biaya untuk memberangkatkan putranya. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat sang atlet.
“Dia bilang ke saya, ‘Biar saja Coach, saya mau berangkat mandiri dari hasil jadi badut.’ Dari situ saya benar-benar terketuk hati. Saya berpikir bagaimana caranya anak ini tetap bisa berangkat,” ujarnya.
Kisah Al Risky yang bekerja sebagai badut kemudian menyebar luas di media sosial dan mendapat perhatian masyarakat. Rony menegaskan unggahan tersebut bukan ditujukan untuk menyudutkan pemerintah, melainkan sebagai gambaran besarnya semangat para atlet dalam mengejar prestasi.
“Tujuan saya bukan menghakimi pemerintah. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa tanpa bantuan pemerintah pun, sebagai orang tua dan pelatih kami tetap berusaha membiayai anak-anak ini agar bisa berprestasi,” katanya.
Sebelum memutuskan berangkat secara mandiri, Rony mengaku telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, mulai dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Pengurus Provinsi Muay Thai Kalimantan Timur, hingga KONI Kutai Kartanegara. Namun, menurutnya, seluruh pihak menyampaikan belum memiliki anggaran untuk membantu keberangkatan atlet.
“Kalau kita terus menunggu, kapan anak-anak ini bisa maju dan mendapatkan pengalaman bertanding,” ucapnya.
Di tengah keterbatasan itu, bantuan mulai mengalir dari masyarakat. Sejumlah warga memberikan donasi secara sukarela. Dukungan juga datang dari mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, yang menghubungi Rony melalui timnya setelah mengetahui kisah tersebut di media sosial dan memberikan bantuan untuk menutupi biaya keberangkatan Al Risky.
“Alhamdulillah, sebelumnya juga ada beberapa orang yang membantu. Bantuan itu akhirnya bisa menutupi kebutuhan keberangkatan Al Risky,” katanya.
Rony menambahkan dirinya juga sempat mengirim pesan kepada kepala daerah melalui media sosial. Namun, ia menegaskan tujuannya bukan untuk meminta bantuan dana, melainkan berharap para atlet mendapat kesempatan dilepas secara resmi sebelum bertolak ke kejuaraan sebagai bentuk dukungan moral.
“Saya bukan minta uang. Saya hanya ingin anak-anak ini dilepas Bupati, supaya mereka bangga, merasa diperhatikan dan membawa nama Kutai Kartanegara dengan semangat,” ujarnya.
Meski harus berangkat dengan biaya mandiri, Rony optimistis anak-anak didiknya mampu bersaing di tingkat nasional. Ia berharap pengalaman dan prestasi yang telah diraih para atlet sebelumnya dapat kembali berbuah medali pada IMC 2026.
“Insyaallah kami pulang membawa medali. Beberapa atlet kami juga sudah beberapa kali meraih medali di kejuaraan nasional. Mudah-mudahan kali ini hasilnya juga terbaik,” pungkasnya.
Foto : Arkan Sport



