Ilustrasi. BRIN mengatakan asap tebal membumbung tinggi dari Gunung Anak Krakatau diprediksi hingga 13 kilometer tersebut berpotensi mencapai ke berbagai negara tetangga.

Gunung Anak Krakatau Erupsi Berulang, Kolom Erupsi Diperkirakan Tembus 13 Kilometer

Bebaca.id, BANTEN – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meningkat setelah mengalami erupsi berulang sejak Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari. Kolom erupsi diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 13 kilometer dan dinilai berpotensi membawa material hingga terbawa sirkulasi atmosfer menuju wilayah yang lebih jauh.

Dilansir dari CNN Indonesia, Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, menyoroti penampakan semburan berwarna cokelat pekat yang terpantau melalui citra satelit.

Menurut Erma, ketebalan semburan yang masih terlihat jelas dari satelit mengindikasikan kuatnya material yang dilepaskan dalam aktivitas erupsi tersebut.

“Kalau sampai secoklat ini terpantau satelit padahal di atas lautan, berarti letusannya tebal nih (erupsi Gunung Anak Krakatau). Ketinggian kolom diestimasi 13 km, itu sudah menembus hampir ke lapisan tropopause,” kata Erma melalui akun X, Sabtu (5/9/2026).

Kondisi tersebut, menurutnya, perlu mendapatkan perhatian. Apabila material erupsi mencapai lapisan tropopause, sirkulasi atmosfer memungkinkan material yang dilepaskan di wilayah khatulistiwa bergerak menuju kawasan yang lebih jauh.

Erma menyebut fenomena tersebut berkaitan dengan sirkulasi Hadley yang menghubungkan pergerakan udara dari kawasan tropis menuju wilayah subtropis.

“Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis,” ujarnya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga dirasakan masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda.

Fauzan, warga Kampung Baru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, mengaku merasakan getaran secara terus-menerus sejak Sabtu dini hari.

Menurutnya, getaran mulai terasa sekitar pukul 01.00 WIB dan terus berlangsung hingga pagi dengan intensitas yang dirasakan semakin kuat.

Dalam rekaman video yang dibagikannya, pintu rumah terlihat bergetar berulang kali. Getaran tersebut disebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Erupsi juga dilaporkan menghasilkan suara gemuruh serta fenomena lava fountain atau air mancur lava.

Di tengah aktivitas tersebut, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat maupun wisatawan diminta tidak mendekati dan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Berdasarkan laporan pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui MAGMA Indonesia untuk periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, Sabtu (5/9/2026), kondisi cuaca di sekitar gunung terpantau berawan hingga mendung.

Angin bertiup lemah hingga sedang menuju arah barat laut. Sementara kondisi gunung secara visual terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan intensitas 0-III.

“Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati,” tulis pengamat gunung api Rioboniek Situmorang dalam laporannya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih perlu diwaspadai seiring berlangsungnya erupsi berulang dan status Siaga yang belum berubah. Masyarakat di sekitar Selat Sunda diminta mengikuti informasi resmi PVMBG serta mematuhi larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?