TENGGARONG – Mengelola sampah tidak lagi sekadar urusan buang dan angkut. Kecamatan Loa Kulu kini membuktikan bahwa limbah rumah tangga bisa berubah menjadi sumber ekonomi baru melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
Sejak mulai beroperasi pada 2024, program ini menghadirkan cara baru bagi warga dalam memperlakukan sampah. Alih-alih menumpuk di tempat pembuangan akhir, sebagian besar limbah kini dipilah sesuai jenis dan bernilai jual. Warga bahkan bisa memperoleh penghasilan tambahan hanya dari botol plastik, kertas, maupun barang bekas lainnya.
Nur, salah satu warga Loa Kulu, mengaku sudah merasakan manfaatnya. “Sekarang kalau ada sampah, saya tidak lagi langsung buang. Barang yang bisa dijual saya kumpulkan, dan lumayan, tiap kali setor bisa dapat Rp30 ribu sampai Rp50 ribu,” tuturnya dengan senyum puas.
Unit Pengelola Sampah Simpamas yang menggerakkan program ini menerapkan sistem jemput bola, baik ke rumah warga maupun bank sampah desa. Hasilnya cukup menjanjikan, bahkan ada bank sampah yang mencatat omzet hingga Rp1 juta dari hasil penjualan sampah.
Kepala Seksi Pelayanan Umum Kecamatan Loa Kulu, Muhammad Fadli, menegaskan bahwa inisiatif ini tidak hanya sekadar mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menumbuhkan peluang ekonomi kreatif. “Kami ingin masyarakat menyadari bahwa sampah masih punya nilai. Jika dikelola dengan baik, bisa jadi bahan batako, pupuk organik, hingga sumber penghasilan tambahan,” jelasnya.
Loa Kulu bertekad terus berinovasi dalam sistem pengelolaan sampah. Program ini diharapkan menjadi contoh nyata bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.



