Bebaca.id, TENGGARONG – Ancaman kebakaran meningkat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) seiring kondisi cuaca yang semakin kering. Hingga Rabu (12/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mencatat sedikitnya 36 titik kebakaran yang tersebar di 14 kecamatan.
Peningkatan kewaspadaan dilakukan karena Agustus mulai memasuki periode puncak musim kemarau. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan bertahan hingga Oktober 2026 sebelum berangsur menurun pada November dan Desember.
“Kalau kita lihat dari perbandingan tahun-tahun sebelumnya, memang pada awal Agustus ini sudah mulai menuju puncak musim kemarau. Diperkirakan dari BMKG, kondisi ini akan berlangsung sampai sekitar Oktober. Setelah itu baru berangsur turun pada November dan Desember,” kata Aspianur.
Kondisi lahan saat ini juga semakin kering setelah Kukar disebut mengalami sekitar 15 hari tanpa hujan signifikan. Situasi tersebut menyebabkan vegetasi lebih mudah terbakar, terutama ketika cuaca panas disertai tiupan angin.
Dari pendataan sementara, kejadian kebakaran telah terpantau di 14 kecamatan. Beberapa di antaranya berada di Tenggarong, Marangkayu, Loa Janan, Loa Kulu, Tenggarong Seberang dan Samboja Barat, termasuk sejumlah wilayah pesisir maupun hulu Kukar.
BPBD menghimpun informasi tersebut melalui berbagai sumber, mulai dari BMKG, petugas pemadam kebakaran, dinas terkait, kecamatan, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), pemerintah provinsi hingga laporan aparat di wilayah.
“Untuk Tenggarong Seberang, terakhir kami menerima laporan di Rapak Lambur. Kalau Samboja Barat sudah ditangani bersama teman-teman kepolisian,” jelasnya.
Selain menangani kebakaran yang telah terjadi, BPBD juga memantau sejumlah lokasi yang terdeteksi memiliki potensi kejadian. Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman.
Lokasi tersebut memiliki medan dan akses yang cukup sulit sehingga penanganannya membutuhkan keterlibatan sejumlah instansi.
“Besok teman-teman dari Kementerian Kehutanan bersama TNI-Polri yang berada di kecamatan akan bergerak menuju Desa Kupang Baru,” ujar Aspianur.
BPBD juga meminta dukungan perusahaan untuk membantu mengerahkan personel. Perjalanan dari Muara Kaman menuju lokasi yang masih dapat dijangkau kendaraan diperkirakan memakan waktu sekitar tiga jam. Petugas selanjutnya masih harus melanjutkan perjalanan untuk mencapai titik kejadian.
Di tengah kondisi kemarau, BPBD menyoroti aktivitas manusia sebagai salah satu faktor yang kerap memicu kebakaran. Pembukaan lahan menggunakan api serta pembakaran sampah sembarangan menjadi aktivitas yang perlu diwaspadai.
“Rata-rata ada aktivitas pembukaan lahan, kemudian membakar sampah sembarangan. Selain itu, faktor alam juga bisa menjadi pemicu,” ungkapnya.
Masyarakat pun diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah selama kondisi cuaca sangat kering. Api dalam skala kecil dapat dengan cepat menjalar ketika tertiup angin dan berpotensi sulit dikendalikan.
Aspianur mencontohkan kejadian di Wapulu. Pembakaran yang awalnya dilakukan untuk membersihkan lahan kemudian meluas setelah bara atau api terbawa angin.
“Kalaupun memang harus dilakukan, harus benar-benar diawasi dan dipastikan apinya sudah padam sebelum ditinggalkan. Jangan sampai setelah dibakar kemudian ditinggalkan begitu saja. Karena kondisi sekarang sangat kering dan angin cukup mudah membawa bara api,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pembukaan lahan dengan metode pembakaran memiliki sejumlah ketentuan yang harus diperhatikan. Lokasi pembakaran harus berada di area aman dan terbuka, dilengkapi sekat serta jauh dari permukiman.
Namun, kondisi kemarau membuat risiko penyebaran api tetap tinggi. Angin dapat membawa bara melewati batas pengamanan dan memicu kebakaran di lokasi lain.
Menghadapi potensi munculnya kebakaran secara bersamaan di sejumlah kecamatan, BPBD Kukar mengandalkan koordinasi lintas instansi dan daerah.
“Kami bukan Superman, tetapi kami adalah super tim. Jadi ketika ada kejadian di beberapa wilayah, kami melakukan sinergi dengan daerah lain,” katanya.
Kerja sama penanggulangan bencana telah dibangun bersama Pemerintah Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Dukungan tersebut dapat dimanfaatkan ketika Kukar membutuhkan tambahan personel maupun armada dalam menangani kejadian berskala besar atau yang terjadi secara bersamaan.
Dengan periode kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober, BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memunculkan sumber api.
“Intinya, sinergi menjadi sangat penting dalam menghadapi kondisi seperti ini,” pungkas Aspianur.



