Presiden AS Donald Trump mengepalkan tangan saat menaiki Air Force One di Bandara Internasional Palm Beach di West Palm Beach

AS Klaim Hancurkan 1.000 Target Iran, Korban Mulai Berjatuhan

Bebaca.id, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan operasi militer terhadap Iran dapat berlangsung hingga empat minggu. Pernyataan itu disampaikan Minggu (1/3), sehari setelah eskalasi besar-besaran antara Washington dan Teheran. Serangan gabungan AS dan Israel diklaim telah menghancurkan pusat komando utama Iran. Dampaknya kini meluas ke berbagai sektor global.

Dalam wawancara dengan Daily Mail, Trump menyebut durasi konflik kemungkinan tidak singkat. “Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu. Ini negara besar, jadi akan memakan waktu empat minggu – atau kurang,” kata presiden berusia 79 tahun itu. Ia juga mengaku tetap membuka ruang dialog. “Saya tidak tahu. Mereka ingin berbicara, tapi saya bilang seharusnya kalian berdialog minggu lalu, bukan minggu ini,” ujarnya.

Militer AS melaporkan lebih dari 1.000 target telah dihantam sejak operasi dimulai Sabtu lalu. Pesawat pengebom siluman B-2 disebut menjatuhkan bom seberat 2.000 pon ke fasilitas rudal bawah tanah Iran. Israel juga mengklaim telah menguasai wilayah udara Teheran. Serangan diarahkan ke pusat intelijen dan komando militer.

Namun, Iran melancarkan serangan balasan yang mulai memakan korban dari pihak Amerika. Tiga tentara AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka serius. Dua pejabat AS mengatakan para prajurit gugur di sebuah pangkalan di Kuwait. Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang kapal tanker serta pangkalan militer di kawasan Teluk.

Trump mengakui kematian tersebut sebagai korban pertama sejak ia kembali menjabat. Dalam pidato video, ia menyampaikan belasungkawa sekaligus peringatan keras. “Sayangnya, kemungkinan akan ada lagi sebelum ini berakhir. Tapi Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling menghancurkan kepada teroris yang berperang melawan peradaban,” tegasnya.

Sementara itu, situasi politik di Iran memasuki fase transisi setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Presiden Masoud Pezeshkian bersama dewan interim mengambil alih tugas kepemimpinan sementara. Di Amerika, dukungan publik terhadap operasi ini terbilang rendah berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos. Hanya sekitar seperempat warga AS menyatakan mendukung langkah militer tersebut.

Ketegangan juga memicu kekhawatiran global, terutama terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupan bandara utama di Timur Tengah, termasuk Dubai, memperburuk gangguan penerbangan internasional. Sejumlah senator AS meragukan perubahan rezim dapat dicapai hanya lewat serangan udara. “Tidak ada jawaban sederhana tentang apa yang akan terjadi selanjutnya,” ucap Senator Tom Cotton dalam wawancara di CBS.

Konflik yang terus berkembang ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam situasi yang semakin tidak pasti. Pemerintah AS menegaskan operasi masih berlanjut, sementara Iran menunjukkan tanda-tanda perlawanan yang kuat. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi akan kembali terbuka atau eskalasi justru semakin melebar.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?