Bebaca.id, TENGGARONG — Komunitas BMX di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai merasakan perhatian dari pemerintah setelah adanya kunjungan langsung ke lapangan. Hal tersebut disampaikan Deri, yang akrab disapa Gemon, salah satu perwakilan komunitas BMX Kukar.
Deri mengaku bersyukur atas kehadiran pemerintah yang mulai melihat kondisi para atlet dan fasilitas yang ada. Ia menyebut, selama ini komunitas BMX di Kukar jarang mendapat perhatian.
“Alhamdulillah, sekarang pemerintah sudah mulai memperhatikan kami. Sebelumnya, jujur saja, kami hampir tidak pernah diperhatikan,” ujarnya , Senin (30/3/2026) malam.
Meski demikian, dalam hal pembinaan dan keikutsertaan dalam kompetisi, para atlet BMX Kukar masih bergerak secara mandiri. Deri mengungkapkan bahwa dirinya kerap mengikuti kejuaraan tingkat nasional dengan dukungan sponsor pribadi, bukan dari pemerintah.
“Kalau untuk event, kami jalan sendiri. Saya pribadi sering ikut kejuaraan nasional, tapi bukan dari pemerintah, melainkan dari sponsor. Bulan April ini juga saya rencana berangkat lagi,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan lebih banyak event, bahkan hingga skala internasional, guna meningkatkan daya saing atlet lokal. Menurutnya, atlet dari wilayah Jawa dan Sumatera saat ini sudah lebih maju dari segi kualitas.
“Harapannya, bisa dibuat event standar internasional, supaya kami juga bisa bersaing. Atlet dari Jawa dan Sumatera itu kualitasnya sudah bagus,” katanya.
Selain soal kompetisi, Deri juga menyoroti pembangunan fasilitas skatepark yang dinilai belum sesuai kebutuhan atlet. Ia menilai pentingnya pelibatan komunitas dalam proses perencanaan agar fasilitas yang dibangun dapat digunakan secara optimal.
“Kalau bikin lagi, seharusnya komunitas dilibatkan. Karena yang dipakai kami. Contohnya, ada beberapa bagian yang seharusnya dibuat untuk trik, tapi malah jadi seperti tembok, jadi tidak bisa dimainkan,” ungkapnya.
Ia juga mengkritisi kesalahan dalam desain dan penggunaan istilah teknis pada fasilitas yang ada. Menurutnya, terdapat bagian yang disebut “bowl” namun tidak sesuai dengan standar sebenarnya.
“Yang disebut ‘bowl’ itu sebenarnya bukan bowl, tapi quarter. Kalau bowl itu bentuknya bulat seperti kolam. Ini jadi terkesan buang-buang anggaran,” tegasnya.
Lebih lanjut, Deri menyebut komunitas BMX di Kukar sebenarnya cukup banyak. Namun, kurangnya informasi serta fasilitas yang belum memenuhi standar membuat perkembangan komunitas belum maksimal.
“Komunitas itu sebenarnya banyak, tapi banyak juga yang tidak tahu kalau skatepark ini ada. Selain itu, pembangunannya juga belum standar, jadi kurang menarik untuk digunakan,” ujarnya.
Dengan pengalaman mengikuti berbagai kompetisi di luar daerah, Deri berharap ke depan pemerintah dapat menghadirkan fasilitas yang sesuai standar serta memberikan dukungan lebih bagi perkembangan atlet BMX lokal.
“Saya sudah sering main di luar daerah, jadi tahu standar yang bagus itu seperti apa. Harapannya ke depan bisa lebih diperhatikan,” tutupnya.



