Bebaca.id, TENGGARONG – Petani di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, kembali menghadapi dampak serius akibat banjir yang menyebabkan ratusan hektare sawah mengalami gagal panen.
Berdasarkan hasil verifikasi Tim Terpadu, dari total sekitar 342,25 hektare lahan yang ditanami, sebanyak 148 hektare di antaranya mengalami puso atau rusak berat. Bencana ini berdampak pada 153 kepala keluarga atau 542 jiwa.
Kepala Desa Rapak Lambur, Muhammad Yusuf, mengatakan banjir menjadi ancaman yang terus berulang dan kini tidak lagi bersifat musiman.
“Ketinggian air bisa mencapai 50 sampai 80 sentimeter. Bahkan genangan bisa bertahan hingga empat bulan karena kondisi lahan lebih rendah dari Sungai Mahakam,” ujarnya Rabu (8/4/2026).
Menurut Yusuf, ketika curah hujan tinggi terjadi di wilayah hulu, debit Sungai Mahakam meningkat dan langsung merendam area persawahan warga.
“Kalau air pasang, dalam satu malam saja bisa merendam ratusan hektare sawah, kurang lebih sekitar 500 hektare terdampak,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyalurkan bantuan kepada warga terdampak berupa beras sebanyak 9.756 kilogram atau setara 1.084 karung, serta benih padi sebanyak 1.250 kilogram.
Meski demikian, Yusuf menilai petani masih menghadapi berbagai keterbatasan sarana dan prasarana pertanian.
“Kami masih kekurangan irigasi, alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, serta benih padi,” katanya.
Ia menyebut, dengan luas lahan sekitar 800 hektare dan 500 hektare di antaranya produktif, kebutuhan alsintan di desa tersebut masih belum mencukupi.
Selain itu, ia juga menyoroti kondisi infrastruktur pengendalian banjir yang belum optimal meski beberapa upaya telah dilakukan.
“Sudah ada pembangunan pintu air, tapi belum maksimal. Kami berharap ke depan ada peninggian tanggul agar luapan Sungai Mahakam bisa dikendalikan,” ujarnya.
Yusuf menambahkan, banjir yang terjadi berulang dalam beberapa waktu terakhir semakin memperparah kondisi petani, terutama karena kehilangan hasil panen sekaligus cadangan benih.
“Petani kami sudah dua kali gagal panen, sehingga tidak punya stok benih untuk musim tanam berikutnya,” tutupnya.



