Penulis : SultanAL
TENGGARONG – Sejumlah kampung tua di wilayah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, masih mempertahankan tradisi penyucian diri pada magrib terakhir menjelang bulan suci Ramadan. Ritual tersebut menjadi bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Kutai dalam menyambut bulan puasa.
Penggiat budaya Kutai, Awang M. Rifani, mengatakan tradisi tersebut bukan sekadar seremoni turun-temurun, melainkan sarat makna spiritual. Menurutnya, masyarakat Kutai secara umum kerap dikelompokkan sebagai Melayu karena mayoritas memeluk agama Islam.
“Secara etnik sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun karena mayoritas orang Kutai beragama Islam, kemudian dikelompokkan sebagai Melayu. Sementara yang non-Muslim sering dipolarisasi sebagai Dayak,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Ia menjelaskan, masuknya Islam ke tanah Kutai membawa pengaruh budaya dari luar daerah, terutama dari Sulawesi. Interaksi dengan berbagai suku di Nusantara kemudian membentuk corak budaya Kutai yang dikenal hingga kini.
Menjelang Ramadan, warga biasanya membersihkan rumah dan mandi sebagai simbol penyucian diri. Sebagian keluarga juga melaksanakan ziarah kubur dan doa haul untuk orang tua atau leluhur yang telah wafat.
“Biasanya masing-masing keluarga melakukan ziarah dan doa untuk keluarga yang sudah meninggal,” katanya.
Selain itu, pada waktu magrib terakhir sebelum puasa, masyarakat menyiapkan sejumlah perlengkapan yang diletakkan di depan pintu rumah. Perlengkapan tersebut meliputi lilin, beras, irisan pinang, gambir, kapur sirih, serta daun sirih.
Rifani memaparkan, setiap unsur memiliki filosofi tersendiri. Lilin atau api melambangkan cahaya (nur) sebagai petunjuk hidup, yang dimaknai sebagai harapan agar hati menjadi terang oleh iman sebelum memasuki Ramadan. Beras menjadi simbol rezeki dan rasa syukur atas nikmat Tuhan, sekaligus doa agar diberi kecukupan selama berpuasa.
Irisan pinang dalam budaya Melayu-Kutai melambangkan kejujuran dan keteguhan niat. “Puasa itu soal niat. Niatnya harus lurus dan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Sementara gambir yang bercita rasa pahit dan sepat dimaknai sebagai simbol pengendalian diri. Kapur sirih melambangkan perekat atau penyatu, sebagai pesan menjaga silaturahmi dan memperbaiki hubungan sebelum Ramadan tiba. Adapun daun sirih menjadi simbol kesucian dan penghormatan dalam tradisi adat Nusantara.
Peletakan perlengkapan di depan pintu rumah juga memiliki arti khusus. Pintu dipandang sebagai batas antara ruang luar dan dalam, sekaligus perlambang batas antara dunia dan hati manusia.
“Maknanya kita menolak hal buruk masuk ke rumah, sekaligus mengundang keberkahan dan ketenangan,” jelasnya.
Waktu magrib dipilih karena merepresentasikan peralihan dari siang menuju malam. Secara filosofis, momen tersebut dimaknai sebagai perubahan diri menuju kehidupan yang lebih taat dan suci dalam menjalankan ibadah Ramadan.
Rifani menegaskan, inti dari tradisi tersebut adalah pengingat bahwa puasa tidak semata menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum membersihkan batin.
“Ramadan adalah saat membersihkan hati. Rumah dan jiwa harus sama-sama diterangi,” pungkasnya.
Foto : Ilustrasi (Ist)



