Pejalan kaki melintas dan memberikan penghormatan di memorial yang didirikan untuk bocah WNI berusia enam tahun yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Spring Street, Chinatown, 11 Februari 2026.

WNI di Singapura Bersatu Dukung Ashar Ardianto Usai Putrinya Tewas dalam Kecelakaan di Chinatown

SINGAPURA – Gelombang empati dan solidaritas mengalir dari warga negara Indonesia (WNI) di Singapura untuk Ashar Ardianto (30), yang tengah menghadapi duka mendalam setelah kehilangan putrinya, Sheyna Lashira Smaradiani (6), dalam kecelakaan lalu lintas di kawasan Chinatown.

Juru bicara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura menyebut kondisi emosional Ashar saat ini “sangat terguncang” menyusul tragedi yang merenggut nyawa buah hatinya tersebut.

Sementara itu, istri Ashar, Raisha Anindra Pascasiswi (31), masih menjalani perawatan intensif di High Dependency Unit (HDU) Singapore General Hospital (SGH). Meski sudah dapat berkomunikasi, kondisinya dilaporkan masih lemah akibat cedera berat yang dialaminya.

Wakil Kepala Perwakilan RI di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura (KBRI) Singapura, Thomas Ardian Siregar, mengatakan pihaknya terus mendampingi keluarga korban.

“Secara fisik, Pak Ashar terlihat baik-baik saja. Namun secara emosional, ia jelas sangat terguncang. Terkadang ia terdiam di tengah percakapan. Secara psikologis, peristiwa ini masih sangat sulit untuk ia terima,” ujar Thomas kepada Channel NewsAsia (CNA).

Ashar sendiri memilih untuk tidak memberikan wawancara kepada media.

Menginap di Wisma Duta

Untuk memastikan pendampingan maksimal, KBRI telah mengatur akomodasi bagi Ashar selama berada di Singapura. Saat ini, ia menginap di Wisma Duta setelah Duta Besar RI untuk Singapura, Hotmangaradja Pandjaitan, bersedia menampungnya.

“Untuk saat ini, Pak Ashar tinggal di Wisma Duta sambil menunggu perawatan istrinya di rumah sakit. Dengan begitu, kami bisa lebih cepat memberikan bantuan bila dibutuhkan,” kata Thomas.

Selain itu, jaringan hotel internasional Ascott Limited juga menawarkan akomodasi gratis bagi Ashar sebagai bentuk dukungan di masa sulit ini. Pihak Ascott telah menghubungi KBRI untuk menyampaikan kesediaan tersebut.

Kronologi Kecelakaan

Kecelakaan fatal itu terjadi pada 6 Februari sekitar tengah hari di dekat Buddha Tooth Relic Temple, kawasan South Bridge Road, Chinatown.

Saat itu, Ashar, Raisha, Sheyna, serta putra bungsu mereka yang berusia dua tahun sedang menyeberang jalan. Sebuah mobil listrik berwarna gelap yang dilaporkan keluar dari area parkir dan berbelok ke kanan menabrak Raisha dan Sheyna.

Ashar yang berada lebih dulu di depan sambil mendorong kereta bayi tidak ikut tertabrak.

Sheyna mengalami cedera kepala parah dan dinyatakan meninggal dunia di SGH tidak lama setelah kejadian. Jenazahnya telah dipulangkan ke Jakarta dan dimakamkan pada 8 Februari di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir.

Kepolisian Singapura (SPF) menyebut pengemudi, seorang perempuan berusia 38 tahun, ditangkap pada hari kejadian atas dugaan kelalaian dalam mengemudi hingga menyebabkan kematian. Saat ini, penyelidikan masih berlangsung dan pengemudi tersebut telah dibebaskan dengan jaminan sesuai hukum Singapura.

KBRI menyatakan terus menjalin komunikasi dengan otoritas setempat dan secara berkala meminta pembaruan informasi terkait proses hukum.

Penggalangan Dana dan Bantuan Hukum

Pasca kejadian, berbagai komunitas diaspora Indonesia di Singapura bergerak cepat menggalang dana untuk membantu keluarga korban, terutama untuk menutup biaya pengobatan yang terus bertambah.

Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia di Singapura (FKMIS) turut menyebarkan informasi melalui jaringan diaspora. Dalam unggahan di Instagram, FKMIS menyebut membantu menyalurkan donasi melalui perwakilan keluarga bernama Cornelia.

Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI FIB UI) juga meluncurkan penggalangan dana. Raisha diketahui merupakan lulusan Program Studi Sastra China Universitas Indonesia tahun 2017.

Thomas menyampaikan apresiasi mendalam atas solidaritas yang ditunjukkan WNI di Singapura.

“Kami terharu dan berterima kasih atas empati yang luar biasa. Dukungan seperti ini menguatkan keluarga korban, terutama saat mereka menghadapi hari-hari yang berat,” ujarnya.

Selain itu, KBRI juga telah menyediakan pengacara yang bekerja secara pro bono bagi keluarga.

“Jadi tidak ada biaya hukum,” tegas Thomas.

Pihak kedutaan juga tengah menjajaki berbagai opsi untuk membantu biaya pengobatan, meski belum ada keputusan final terkait skema bantuan lanjutan.

Sosok Sheyna yang Dirindukan

Duka mendalam juga dirasakan keluarga besar sekolah Sheyna di TK Erlass Pejaten, Jakarta Selatan.

Kepala sekolah, Anna Nuryana Liza Adriani, menggambarkan Sheyna sebagai anak yang cerdas dan periang, bahkan memiliki kedewasaan yang melampaui usianya.

“Sheyna selalu sangat antusias datang ke sekolah. Ia senang belajar, cerdas dan periang, serta menikmati bermain bersama teman-temannya,” ujar wali kelasnya, Raden Tati Hamdiah.

Pada hari Senin setelah kabar duka diterima, teman-teman sekelas Sheyna berkumpul untuk berdoa bersama.

Pihak sekolah berharap proses hukum dapat berjalan dengan baik agar keadilan dapat ditegakkan.

Saat ini, fokus utama KBRI adalah mendampingi Ashar melewati masa-masa sulit ini, sembari menanti pemulihan Raisha dan perkembangan proses hukum yang masih berjalan. Solidaritas dari WNI di Singapura pun menjadi kekuatan tersendiri bagi keluarga yang tengah berduka.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?