Penulis : SultanAL
TENGGARONG – Kebutuhan beras di Kutai Kartanegara (Kukar) ternyata masih banyak ditopang dari luar daerah. Pasalnya, produksi lokal baru sanggup menutup sekitar 40 persen konsumsi masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Sayid Fatullah, memastikan kondisi ini belum mengganggu pasokan. “Produksi lokal baru sekitar 30–40 persen. Sebagian besar masih dipasok dari Sulawesi dan Jawa,” ungkapnya.
Menurut Sayid, tantangan utama ada pada luas lahan pertanian di Kukar yang cenderung kecil dan tersebar. Kondisi ini berbeda dengan Jawa atau Sulawesi yang memiliki hamparan sawah lebih luas.
Selain itu, mekanisasi pertanian di Kukar juga belum maksimal. Petani masih banyak mengandalkan tenaga manusia dan peralatan sederhana dalam proses produksi. “Kalau hanya untuk konsumsi lokal, hasil produksi kita memang belum cukup,” tambahnya.
Meski begitu, Sayid menegaskan stok beras di Kukar tetap aman. Disperindag terus memantau distribusi dan harga agar tidak terjadi lonjakan di pasar.
Pemerintah daerah juga mendorong peningkatan produksi dengan berbagai upaya, mulai dari pendampingan petani hingga pemanfaatan teknologi sederhana untuk efisiensi panen.
“Memang belum sebesar Jawa atau Sulawesi, tapi kami terus berusaha menambah kapasitas produksi lokal,” tegas Sayid.
Dengan langkah ini, Kukar diharapkan bisa perlahan mengurangi ketergantungan dari luar daerah sekaligus menjaga stabilitas harga beras.



