Penulis : SultanAL
TENGGARONG – Upaya menghidupkan kembali wisata sejarah di Kutai Kartanegara mulai menunjukkan geraknya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar menggelar Festival Museum Kayu Tuah Himba selama tiga hari, 27–29 November 2025, sebagai langkah awal membangkitkan museum yang lama merana karena minim kunjungan.
Museum Kayu Tuah Himba sendiri dikenal sebagai salah satu pusat edukasi unggulan di Tenggarong. Di dalamnya tersimpan ragam koleksi bersejarah: kayu ulin langka khas Kalimantan, fosil kayu berusia ratusan tahun yang telah mengeras menjadi batu, hingga kumpulan daun dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur.
Masuk ke Ruang Ukiran, pengunjung disambut deretan karya seni khas Kalimantan: patung Dayak Kenyah, miniatur Rumah Betang, dan ragam kerajinan kayu lainnya. Namun, satu koleksi selalu berhasil mencuri perhatian. Seekor buaya muara sepanjang 6 meter yang telah diawetkan pernah menelan dua korban kini menjadi ikon paling legendaris dari museum ini.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menyebut festival ini sebagai langkah konkret untuk mengembalikan eksistensi Museum Kayu yang disebut “mati suri”.
“Pengunjung sekarang hanya 3–4 orang per hari, padahal dulu bisa sampai 40 orang bahkan lebih. Kami ingin menggiatkannya kembali dan mengingatkan masyarakat bahwa Museum Kayu itu ada di Kukar,” ujar Puji.
Festival ini turut melibatkan pelajar dari berbagai SMK di Kukar khususnya yang memiliki jurusan seni, keterampilan, membatik, dan melukis. Puji menegaskan, kehadiran mereka merupakan bentuk apresiasi pemerintah terhadap kreativitas generasi muda.
“Yang penting mereka berkegiatan. Semua karya seperti batik dan lukisan mereka tampilkan di sini. Kami ingin menunjukkan bahwa pemerintah daerah memperhatikan karya anak-anak kita,” jelasnya.
Para pelajar ini sebelumnya juga tampil dalam Pekan Kebudayaan dan kembali diundang untuk berpartisipasi. Menariknya, siswa diberi kebebasan penuh dalam menciptakan motif batik.
“Motif batik terserah mereka. Itu kreativitas bebas berdasarkan pengetahuan yang mereka dapat di sekolah,” tambah Puji.
Tak hanya itu, festival juga memberi ruang bagi para pelaku UMKM, yang mengisi stan-stan yang disediakan panitia.
“UMKM adalah salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Walau tempat terbatas, kami tetap mengundang mereka untuk ikut meramaikan,” katanya.
Puji berharap Festival Museum Kayu Tuah Himba menjadi momentum kebangkitan museum ini sebagai ruang belajar yang kaya pengetahuan tentang perkayuan dan budaya.
“Harapan kita, Museum Kayu kembali ramai dikunjungi masyarakat Tenggarong maupun luar daerah. Museum ini penuh edukasi, terutama soal kayu dan jenis-jenisnya. Pelajar yang tertarik bidang perkayuan bisa banyak belajar di sini,” tutupnya.
Festival ini diharapkan menjadi titik balik minat masyarakat terhadap wisata sejarah dan budaya lokal, sekaligus membuka panggung kreatif bagi pelajar dan UMKM di Kukar.



