Penulis : SultanAL
TENGGARONG – Kebakaran maut yang melanda RT 21 Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, bukan hanya menyisakan puing dan bangunan yang hangus. Tragedi yang merenggut tiga nyawa anak kecil itu juga membuka mata pemerintah kecamatan tentang lemahnya kesiapsiagaan kebakaran di lingkungan warga.
Musibah ini mendorong pemerintah setempat melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk rencana pengadaan alat pemadam kebakaran di tiap RT.
Camat Anggana, Rendra Abadi, menegaskan bahwa insiden tersebut menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku wilayah, terutama di kawasan permukiman padat yang didominasi bangunan kayu.
Ia mengaku terpukul melihat kondisi rumah warga yang rata dengan tanah setelah api membesar dalam waktu singkat.
“Api cepat sekali menjalar karena rumah–rumah di sana berbahan kayu. Relawan dan pemadam sudah bergerak, tapi situasi sangat cepat berubah,” ujar Rendra, Jumat (12/12/2025).
Menurutnya, kejadian ini harus menjadi momentum memperkuat sistem perlindungan kebencanaan mulai dari tingkat RT. Ia menilai fasilitas pemadaman di kawasan padat penduduk masih jauh dari ideal.
“Ini jadi bahan evaluasi besar bagi kami. Ke depan, tiap RT harus punya mesin portable. Jadi ketika terjadi hal serupa, mereka punya peralatan dasar,” tegasnya.
Kebakaran terjadi pada Kamis (11/12/2025) sekitar pukul 13.10 Wita dan menghanguskan 16 bangunan. Api diduga berasal dari rumah kontrakan enam pintu yang saat kejadian berada dalam kondisi terkunci.
Tiga anak yang berada di dalam kontrakan itu tidak sempat menyelamatkan diri dan dinyatakan meninggal dunia. Mereka adalah Abdul Afif Alfarezi (6), Abidzar Ramadhan (4), dan Aninda Cahaya Putri (1).
Saksi mata menyebut api pertama kali terlihat dari kontrakan tersebut, ditandai asap tebal yang keluar dari celah bangunan. Warga sempat berupaya memadamkan api dengan alat seadanya sambil menunggu kedatangan petugas.
Proses pemadaman berlangsung hampir dua jam dan melibatkan banyak relawan, seperti Barokah Perkasa Grup, Pemadam MPS, Relawan Sudomulyo, Sungai Lais, hingga Sei Kapih Samarinda.
Rendra mengapresiasi aksi cepat warga dan relawan, namun ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada relawan saja tidak cukup.
“Kita harus kuatkan dari bawah. Kalau tiap RT punya alat, setidaknya api bisa ditahan sambil menunggu bantuan datang,” katanya.
Hingga kini kepolisian masih menyelidiki sumber api serta kemungkinan unsur kelalaian. Sementara itu, Pemerintah Kecamatan Anggana melakukan pendataan kerugian dan memastikan kebutuhan darurat keluarga terdampak terpenuhi.
Rendra memastikan pihaknya akan mengawal proses bantuan hingga tuntas.
“Kami turut berduka dan memastikan keluarga korban tidak menghadapi ini sendirian,” pungkasnya.
Foto : Ist



