Penulis : SultanAL
TENGGARONG – Pergeseran badan jalan kembali terjadi di jalur poros Samarinda–Balikpapan. Tepatnya di Kilometer 28, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kembali mengalami penurunan, meski baru beberapa bulan lalu diperbaiki pascalongsor besar pada Mei 2025.
Ruas ini bukan sekadar akses antarwilayah, melainkan urat nadi mobilitas warga, pekerja, hingga distribusi ekonomi harian. Kembali bergesernya titik yang sama dalam waktu singkat pun memicu kekhawatiran publik terhadap kualitas dan ketahanan penanganan sebelumnya.
Ketua Relawan Siaga Batuan (RSB) Desa Batuah, Bustan Nur Arifin, menilai perbaikan yang dilakukan selama ini bersifat sementara dan belum menyentuh struktur dasar jalan.
“Penanganannya cuma ditimbun lalu diaspal. Tidak ada penguatan di bawah. Kalau seperti ini terus, justru makin rontok karena hanya tambalan,” ujarnya.
Menurut Bustan, seharusnya dilakukan penguatan struktur menggunakan pondasi tiang pancang (pile foundation) atau metode pengunci tanah agar badan jalan lebih stabil.
Ia membandingkan penanganan di KM 28 dengan titik lain, seperti KM 24 dan KM 25, yang dinilai lebih kokoh karena menggunakan penguatan struktur.
“Di KM 25 itu ada tiangnya. Harusnya dipaku bumi, dikasih cangkur atau penguat supaya timbunannya kuat,” tambahnya.
Bustan juga menyoroti usia jalan pascaperbaikan yang terbilang sangat singkat. Dari perbaikan terakhir hingga kembali longsor, waktunya diperkirakan belum genap satu tahun.
“Sekitar tujuh bulan saja, belum sampai setahun,” katanya.
Saat ini, jalan masih dapat dilalui seluruh jenis kendaraan. Namun, penurunan terdalam terjadi di sisi pinggir jalan, sementara jalur yang dilintasi kendaraan turun sekitar 40 sentimeter.
“Di pinggir ada yang sampai satu meter, ada juga setengah meter. Jalur kendaraan sekitar 40 sentimeter,” jelasnya.
Ia menyebut sempat dilakukan pengalihan arus lalu lintas saat kondisi memburuk, namun hanya berlangsung singkat. Penanganan darurat dilakukan setelah hujan deras dan kondisi jalan menjadi perhatian publik.
“Setelah hujan deras langsung ada tindakan. Didatangkan koral dan ekskavator kecil untuk penimbunan darurat,” ujarnya.
Terkait dampak ke warga, Bustan mengungkapkan ada satu bangunan yang terdampak di area rawan longsor. Namun, bangunan tersebut sebelumnya telah diperingatkan karena berada di zona terlarang pembangunan.
“Itu sebenarnya sudah dilarang, tapi tetap ngotot membangun,” tegasnya.
Warga pun berharap pemerintah melakukan penanganan menyeluruh dan permanen, bukan sekadar tambal sulam, agar ruas jalan vital ini kembali aman dan stabil.
“Harapannya diperbaiki secara penuh, seperti di KM 24. Supaya kembali normal dan tidak terulang lagi,” pungkas Bustan.
Foto : Relawan Siaga Batuah



