Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat

18 Desa di Tabang Direndam Banjir, Mengganggu Stabilitas Akses Jalan dan Listrik

Penulis : SultanAL

TENGGARONG – Banjir kembali melanda Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sejak Minggu (11/1/2026). Banjir kali ini merupakan banjir susulan dari kejadian serupa pada Kamis pekan lalu, dengan ketinggian air yang jauh lebih tinggi dan berdampak luas pada permukiman warga serta akses vital masyarakat.

Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat, mengatakan banjir pada Kamis lalu masih tergolong ringan dan hanya merendam beberapa titik di Desa Sido Mulyo dengan ketinggian air beberapa sentimeter. Namun, banjir susulan pada Minggu menyebabkan genangan meningkat signifikan hingga hampir dua meter di sejumlah wilayah.

“Banjir hari Minggu ini lanjutan dari Kamis kemarin, hanya saja ketinggiannya jauh lebih tinggi. Rata-rata hampir dua meter,” ujar Rakhmadani, Selasa (13/1/2026).

Dari total 19 desa di Kecamatan Tabang, sebanyak 18 desa terdampak banjir. Satu desa yang tidak terdampak adalah Desa Bila Talang karena berada di wilayah dengan elevasi lebih tinggi.

“Dari 19 desa, hanya Desa Bila Talang yang tidak terdampak karena posisinya lebih tinggi,” jelasnya.

Meski hampir seluruh wilayah terdampak, kondisi warga dilaporkan masih relatif aman. Berdasarkan laporan pemerintah desa, sebagian besar masyarakat memilih bertahan di rumah masing-masing karena banjir ini merupakan kejadian rutin tahunan yang umumnya hanya berlangsung satu hingga dua hari.

“Ini banjir rutin yang hampir setiap tahun terjadi dan biasanya tidak lama. Warga masih bertahan di rumah,” katanya.

Pemerintah Kecamatan Tabang terus berkoordinasi dengan seluruh kepala desa melalui grup komunikasi khusus. Pemantauan lapangan juga dilakukan, meski terkendala keterbatasan sarana mobilisasi, terutama di wilayah perairan.

“Kendala kami ada pada sarana mobilisasi di sungai dan perairan. Karena keterbatasan itu, pemantauan hanya bisa dilakukan di titik-titik tertentu,” ungkap Rakhmadani.

Sejumlah titik terpantau mengalami genangan cukup parah, di antaranya Desa Sido Mulyo serta jalur Poros PU di wilayah Desa Umaq Dian hingga sekitar Jembatan Tenjalin. Kondisi ini turut mengganggu distribusi logistik, termasuk pasokan solar untuk operasional PLN.

“Distribusi solar untuk PLN terganggu karena akses darat tidak bisa dilalui,” jelasnya.

Dampaknya, pasokan listrik di Kecamatan Tabang tidak menyala selama 24 jam penuh dan kerap mengalami pemadaman di seluruh desa.

“Listrik kadang menyala, kadang mati. Tidak 24 jam,” katanya.

Rakhmadani menambahkan, sebanyak 13 desa di Tabang mendapat pasokan listrik dari PLN UPTD, sementara enam desa di wilayah hilir menggunakan suplai dari PLTA dan PLTU. Namun, banjir kiriman dari wilayah hulu kini mulai berdampak ke enam desa tersebut.

“Hari ini enam desa di wilayah hilir mulai terdampak banjir kiriman dari zona hulu,” pungkasnya.

Foto : Istimewa

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram