Para pekerja berada di lini produksi mobil saat tur media di pabrik produsen otomotif China, Great Wall Motor, di Baoding, Provinsi Hebei, China, 24 November 2025. (Foto: Reuters/Maxim Shemetov)

Industri Otomotif China Catat Lompatan dalam Penggunaan Chip Lokal

Bebaca.id, Jakarta – Chip kini menjadi “otak” utama dalam mobil pintar modern yang mengatur tenaga, pengereman, kemudi, hingga tampilan digital. Di China, porsi penggunaan chip buatan dalam negeri pada kendaraan terbaru terus meningkat seiring dorongan pelokalan industri semikonduktor. Para pejabat dan pengamat menilai tren ini sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian teknologi. Meski begitu, penerapannya belum sepenuhnya merata pada semua sistem kendaraan.

Pengamat industri menilai adopsi chip lokal di China masih dominan pada sistem kendali inti, bukan pada komputasi kelas tinggi seperti asistensi mengemudi dan kokpit digital. Hambatan tersebut lebih disebabkan oleh ekosistem industri dibanding faktor geopolitik. Sekretaris Jenderal IIVEA David Zhang mengatakan integrasi chip domestik membutuhkan sumber daya besar. “Ketika produsen mobil mengadopsi chip lokal, mereka harus mengalokasikan lebih banyak waktu dan sumber daya untuk integrasi riset dan pengembangan (R&D),” ujarnya kepada CNA.

Krisis chip global pada masa pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi industri otomotif China. Ketergantungan pada pemasok luar negeri kala itu memperlihatkan rapuhnya rantai pasok. Sejak krisis, produsen mobil dan perusahaan semikonduktor mulai membangun sistem yang lebih mandiri. Nikkei Asia melaporkan pemerintah China mendorong penggunaan chip domestik hingga 20–25 persen pada akhir 2025.

Sejumlah produsen kendaraan listrik mulai menunjukkan hasil kebijakan tersebut. XPeng memperkenalkan chip AI Turing pada SUV G7 dan sedan P7 versi terbaru sebagai platform komputasi kendaraan buatan sendiri. Sementara itu, GAC Aion mengumumkan model Hyper GT sebagai kendaraan energi baru cerdas pertama di China yang sepenuhnya menggunakan chip rancangan internal. Zou Guangcai dari China Automotive Chip Industry Innovation Strategic Alliance menyebut kemajuan tersebut signifikan. “Industri chip otomotif China telah mencatat ‘lompatan bersejarah’ dalam tiga tahun terakhir,” ujarnya dalam sebuah forum.

Meski demikian, tingkat pelokalan chip masih bervariasi. China EV100 memperkirakan rata-rata penggunaan chip lokal baru berada di kisaran 15 persen. Jia Dongyao dari Xi’an Jiaotong-Liverpool University menilai koordinasi rantai pasok semakin erat, namun belum ada ukuran baku menghitung pelokalan. Ia menyebut sejumlah produsen menargetkan tingkat pelokalan 30 hingga 60 persen, meski realisasinya belum diumumkan secara terbuka.

Associate Director Counterpoint Research, Brady Wang, mengatakan sebagian besar kemajuan masih terkonsentrasi pada semikonduktor daya dan chip kendali cerdas. Sebaliknya, prosesor kelas atas untuk bantuan mengemudi dan komputasi kokpit masih mengandalkan pemasok global. Lim Chee Kiang dari Marketperformance GmbH menilai chip menjadi inti kendaraan modern. “Kendaraan buatan China jauh lebih maju dalam hal konten kokpit pintar dan fitur mengemudi otonom dibandingkan kendaraan dari Barat,” ujarnya kepada CNA.

Pengembangan chip kelas tinggi juga menuntut investasi besar. NIO, misalnya, membutuhkan waktu tiga tahun dan biaya miliaran yuan untuk mengembangkan chip Shenji NX9031. Stabilitas pasokan turut menjadi perhatian bagi ratusan produsen kendaraan di China. Kepala pakar CATARC, Xia Xianzhao, menekankan pentingnya penggunaan nyata di lapangan. “Hanya melalui penggunaan nyata di lapangan dan proses iterasi berulang, keselamatan, keandalan, kualitas, dan kinerja biaya chip dapat ditingkatkan secara bermakna.”

Ke depan, pemerintah China lebih memprioritaskan pembangunan standar dan sistem verifikasi dibanding menetapkan target wajib. Para analis menilai pelokalan penuh akan memakan waktu panjang. Jia memprediksi pelokalan bisa tercapai di segmen tertentu, namun sistem inti tetap bergantung impor. “Pada area seperti kokpit pintar dan mengemudi otonom kelas atas, tingkat pelokalan kemungkinan hanya meningkat ke kisaran 20 hingga 30 persen,” ujarnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram