Ibu Kunci Dua Anaknya Hingga Tewas Membusuk, Cermin Krisis Kemanusiaan Modern

Bebaca.id, Jepang — Dunia kembali diguncang oleh kisah pilu yang menggambarkan sisi tergelap relasi manusia paling sakral: hubungan ibu dan anak. Sanae Shimomura (23) tega mengunci kedua anak kandungnya, Sakurako Hagi (3) dan Kaede Hagi (1), di dalam sebuah apartemen sempit. Ia meninggalkan mereka tanpa makanan dan pengasuhan selama berminggu-minggu, hingga akhirnya kedua balita tersebut ditemukan dalam kondisi membusuk.

Yang lebih menggetarkan nurani, Sanae disebut tidak menunjukkan penyesalan atas kematian kedua anaknya.

Kantor-kantor berita di Negeri Matahari Terbit melaporkan, jasad Sakurako dan Kaede ditemukan dalam kondisi kurus kering, telanjang, terlentang di antara tumpukan sampah. Hasil autopsi mengungkap fakta memilukan: tidak ditemukan sisa makanan di dalam saluran pencernaan keduanya. Dugaan kuat, kedua anak tersebut meninggal dunia akibat kelaparan.

Kasus ini bukan sekadar tragedi kriminal. Ia adalah potret kejam dari pengabaian anak sebuah bentuk kekerasan yang kerap luput dari sorotan, namun dampaknya mematikan.

Kematian Sakurako dan Kaede bukanlah cerita fiksi atau dramatisasi belaka. Namun ironisnya, pola kisah serupa justru berulang kali diangkat ke layar lebar dan layar kaca.

Salah satunya melalui film Jepang Sunk into the Womb (2016), yang terinspirasi dari kasus nyata pengabaian anak. Korea Selatan pun mengangkat tema serupa melalui drama Mother, yang meski fiksi, berhasil merepresentasikan maraknya kekerasan terhadap anak oleh ibu atau orang terdekat.

Indonesia tak luput. Film Untuk Angelina (2016) menjadi salah satu representasi lokal tentang tragedi kekerasan terhadap anak. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan milik satu bangsa saja. Ia adalah fenomena global.

Sedih, marah, iba, benci semua bercampur menjadi satu. Pertanyaan yang terus menghantui: bagaimana mungkin seorang ibu, yang mengandung dan melahirkan, tega mengabaikan bahkan membiarkan darah dagingnya sendiri mati perlahan?

Dalam fitrahnya, perempuan memiliki naluri mencintai dan melindungi anak. Ikatan antara ibu dan anak terjalin sejak kehamilan. Janin merasakan apa yang dirasakan ibunya itulah sebabnya kondisi emosional ibu hamil sangat memengaruhi perkembangan bayi.

Ikatan itu berlanjut setelah kelahiran. Proses menyusui, sentuhan kulit ke kulit, pelukan, hingga kehadiran ibu dalam masa tumbuh kembang anak bukan sekadar rutinitas biologis, tetapi kebutuhan emosional mendasar. Bahkan secara ilmiah, pelukan ibu mampu menstimulasi hormon endorfin penghilang rasa sakit alami yang membuat anak merasa aman dan terlindungi.

Namun dalam kasus seperti Sanae Shimomura, fitrah itu seakan mati. Anak tak lagi dipandang sebagai anugerah, melainkan beban. Bukan cinta yang muncul, tetapi kebencian dan kemarahan.

Berderet kasus pengabaian dan kekerasan anak kerap dilatarbelakangi alasan yang terasa sepele: ingin bebas, merasa terbebani mengurus anak, kesepian karena ditinggal pasangan, atau tekanan ekonomi.

Di balik itu semua, muncul satu benang merah: krisis makna hidup. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, manusia kehilangan sandaran. Sekularisme paham yang memisahkan agama dari urusan dunia—membuat manusia menanggung seluruh beban hidup sendirian, tanpa tempat bergantung, tanpa arah spiritual.

Ketika Tuhan dianggap tak relevan, kewajiban terasa menyesakkan. Hidup menjadi kering, rapuh, dan mudah runtuh di bawah tekanan.

Tak heran, di negara-negara yang maju secara materi namun miskin spiritual, kasus semacam ini justru bermunculan. Kehancuran tak selalu dimulai dari runtuhnya ekonomi atau politik, tetapi dari rusaknya institusi terkecil: keluarga.

Seandainya para ibu memiliki keimanan yang kokoh, badai hidup sekeras apa pun tak akan mudah meruntuhkan mereka. Iman menghadirkan keyakinan bahwa ada Allah sebagai tempat bersandar—Rabb yang Maha Kuasa, lebih besar dari masalah apa pun yang dihadapi manusia.

Dalam Islam, konsep rezeki menenangkan hati. Rezeki bukan semata datang dari manusia, tetapi dari Allah. Masalah rumah tangga pun tak berarti tanpa ujian, namun iman membuat ujian terasa lebih ringan karena ada keyakinan akan pertolongan-Nya.

Agama bukan candu. Ia adalah penuntun. Aturan dari Sang Pencipta bukan untuk membelenggu, melainkan menjaga manusia dari kehancuran yang diciptakannya sendiri.

Kasus Sanae Shimomura adalah alarm keras bagi dunia modern. Bahwa kemajuan teknologi, ekonomi, dan kebebasan individual tak menjamin kemanusiaan tetap hidup. Tanpa nilai, tanpa iman, manusia bisa kehilangan naluri paling dasar: melindungi yang lemah.

Sudah saatnya dunia termasuk kita bercermin. Kembali menempatkan agama sebagai fondasi kehidupan, bukan sekadar simbol. Karena pada akhirnya, aturan dari Rabb Pencipta Alam Semesta-lah yang paling tahu cara menjaga manusia dan seisinya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram