Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi sorotan masyarakat di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Warga Tenggarong Keluhkan Kenaikan Harga Pertamax, Pengeluaran Transportasi Diprediksi Membengkak

Bebaca.id, TENGGARONG – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi sorotan masyarakat di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Harga yang kini telah menembus angka Rp16 ribu lebih per liter dinilai berpotensi menambah beban pengeluaran rumah tangga, terutama bagi warga yang bergantung pada kendaraan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, masyarakat pengguna kendaraan pribadi mulai menyesuaikan anggaran bulanan mereka untuk mengakomodasi kenaikan biaya bahan bakar.

Salah seorang warga Tenggarong, Febri Andrean, mengaku cukup terkejut dengan penyesuaian harga Pertamax yang terjadi dalam waktu singkat. Padahal, ia telah menggunakan BBM tersebut selama sekitar empat tahun terakhir karena dianggap sesuai dengan kebutuhan kendaraannya.

“Saya sudah menggunakan Pertamax sejak sekitar empat tahun terakhir karena merasa performa kendaraan lebih baik dan mesin lebih halus,” kata Febri, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, kenaikan harga kali ini memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional kendaraan yang digunakan setiap hari. Meskipun memahami bahwa penyesuaian harga dapat dipengaruhi berbagai faktor, ia menilai kenaikan tersebut terasa cukup tinggi dan terjadi secara mendadak.

“Tentu cukup terasa karena biaya operasional kendaraan menjadi bertambah. Namun saya memahami bahwa penyesuaian harga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tetapi menurut saya kenaikan ini sangat tidak wajar dan sangat mendadak,” ujarnya.

Febri menuturkan, selama ini dirinya tetap memilih Pertamax karena dinilai mampu menjaga performa kendaraan tetap optimal. Namun, kenaikan harga yang terjadi membuatnya mulai mempertimbangkan opsi penggunaan BBM lain sebagai langkah penghematan.

“Untuk saat ini saya masih mempertimbangkannya. Saya cenderung tetap menggunakan Pertamax karena menyesuaikan kendaraan dan sudah terbiasa dengan performanya. Namun ketika urgent, saya akan beralih ke Pertalite,” tuturnya.

Ia menambahkan, keputusan mempertahankan penggunaan Pertamax tidak hanya didasari faktor kenyamanan, tetapi juga pertimbangan perawatan mesin kendaraan dalam jangka panjang. Meski demikian, situasi ekonomi saat ini membuat pengguna kendaraan harus lebih selektif dalam mengelola pengeluaran.

Sebelum harga Pertamax mengalami kenaikan, biaya pengisian bahan bakar untuk mobil miliknya berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu. Dengan tarif terbaru, pengeluaran tersebut diperkirakan meningkat hingga mencapai Rp500 ribu, tergantung frekuensi penggunaan kendaraan.

“Dengan adanya kenaikan harga, pengeluaran diperkirakan bertambah menjadi sekitar Rp400 ribu sampai Rp500 ribu untuk kendaraan mobil. Untuk kendaraan motor sekitar Rp40 ribu sampai Rp50 ribu per minggu,” jelasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak langsung kenaikan harga BBM terhadap masyarakat pengguna kendaraan pribadi. Semakin tinggi tingkat mobilitas seseorang, semakin besar pula biaya tambahan yang harus dialokasikan setiap bulan.

Berdasarkan pantauan di salah satu SPBU di Jalan Robert Wolter Monginsidi, Kelurahan Timbau, aktivitas pengisian BBM masih berlangsung normal. Meski demikian, kenaikan harga Pertamax menjadi topik yang banyak diperbincangkan oleh para pengendara yang datang mengisi bahan bakar.

Febri berharap harga BBM dapat lebih stabil ke depannya agar tidak semakin membebani masyarakat yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Harapannya harga BBM dapat lebih stabil dan terjangkau sehingga tidak terlalu membebani masyarakat, terutama bagi mereka yang mengandalkan kendaraan untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Selain itu, diharapkan kualitas layanan dan ketersediaan BBM tetap terjaga,” pungkasnya.

Penulis: SultanAL

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?