Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri.

Bupati Aulia Usulkan PLTU Mulut Tambang untuk Tekan Dampak Angkutan Batu Bara

Bebaca.id, TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, mendorong pengembangan pembangkit listrik mulut tambang sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan batu bara sekaligus menekan dampak lingkungan dari aktivitas pengangkutannya. Melalui skema tersebut, batu bara dapat diolah langsung di daerah asal menjadi energi listrik sebelum disalurkan ke luar daerah.

Aulia menyampaikan, gagasan ini menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi risiko ekologis yang muncul dari distribusi batu bara, terutama terhadap ekosistem sungai dan habitat pesut di wilayah Kukar.

“Kita melakukan pembangunan pembangkit listrik mulut tambang sehingga ini bisa mereduksi dampak buruk yang diakibatkan dari proses pengiriman batu bara itu sendiri. Sehingga yang keluar itu sudah dalam bentuk listrik, bukan dalam bentuk batu bara lagi,” kata Aulia, Sabtu (10/10/2026).

Menurutnya, pemanfaatan sumber daya energi perlu mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan sepanjang rantai distribusi. Pengangkutan batu bara menggunakan kapal tongkang, khususnya melalui jalur sungai, menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Di Kukar, keberadaan ekosistem pesut menjadi perhatian tersendiri. Aktivitas pelayaran kapal pengangkut batu bara dikhawatirkan mengganggu habitat satwa tersebut serta keseimbangan ekosistem perairan.

“Kami punya ekosistem pesut di sana terganggu, kami punya ekosistem yang ada di sungai di sana terganggu,” ujarnya.

Untuk merealisasikan gagasan tersebut, Aulia mengatakan Pemkab Kukar telah mendorong komunikasi dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. Ia juga meminta perusahaan daerah (perusda) di Kukar mengambil peran dalam mengembangkan rencana pembangunan pembangkit listrik mulut tambang.

Menurutnya, pengolahan batu bara langsung di daerah asal dapat membuka peluang pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal. Dengan demikian, distribusi energi ke luar daerah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pengangkutan batu bara dalam jumlah besar.

“Bukan batu baranya yang kita bawa keluar, tapi listriknya yang kita bawa keluar. Batu baranya ada di tempat kita, kita kelola, kita olah di tempat,” tegasnya.

Meski demikian, rencana pembangunan pembangkit listrik mulut tambang masih membutuhkan tindak lanjut melalui perencanaan serta kajian teknis dan lingkungan. Aspek operasional, kebutuhan infrastruktur, dan potensi dampak terhadap lingkungan perlu diperhitungkan agar pelaksanaannya dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pemkab Kukar diharapkan dapat mengembangkan gagasan tersebut dengan mempertimbangkan keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam, penguatan nilai ekonomi daerah, dan perlindungan ekosistem. Dengan perencanaan yang matang, pengolahan batu bara di daerah asal diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi dampak pengangkutan sekaligus menjaga kelestarian sungai dan habitat pesut di Kukar.(*adv/diskominfo)

Editor : Reihan Noor

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?