La Hasan tercatat sebagai salah satu pejuang penting dalam Peristiwa Merah Putih Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

Kisah La Hasan, Pejuang Berani Penurun Bendera Belanda di Sangasanga

Penulis : SultanAL

TENGGARONG – Sosok La Hasan tercatat sebagai salah satu pejuang penting dalam Peristiwa Merah Putih Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Namanya dikenang sebagai tokoh yang berani menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan Merah Putih sebagai simbol perlawanan terhadap upaya penjajahan kembali.

Peristiwa bersejarah yang terjadi pada 27 Januari 1947 itu hingga kini terus diperingati setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan rakyat Sangasanga dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kisah perjuangan La Hasan diungkap oleh putra kelimanya, Akhmad Hasan. Ia menuturkan, La Hasan lahir pada 1922 di Wandoka Selatan, Desa Wowua, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Nama asli La Hasan adalah La Hadisa, putra dari La Ode Darimu.

Menurut Akhmad Hasan, ayahnya meninggalkan kampung halaman sejak usia 18 tahun untuk terlibat dalam perjuangan melawan penjajah. Sejak saat itu, hidup La Hasan dihabiskan di berbagai medan perlawanan.

“Sejak umur 18 tahun, hidup bapak sudah diisi dengan perjuangan untuk Indonesia,” ujar Akhmad Hasan.

Perjalanan perjuangan La Hasan dimulai di Surabaya. Ia menjadi saksi masa-masa awal kemerdekaan dan terlibat dalam aksi penurunan bendera Belanda. Dari peristiwa tersebut, muncul panggilan “La San” dari rekan-rekannya yang kemudian dikenal sebagai La Hasan.

Keberanian itu membuatnya menjadi target tentara Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Tiga hari setelah aksi tersebut, ia ditangkap dan dibuang ke Nusakambangan. Namun, La Hasan berhasil melarikan diri dengan berenang di laut lepas bersama seorang rekannya.

“Beliau berenang di laut yang katanya banyak buaya dan hiu. Tapi beliau selamat dan akhirnya bisa kembali melanjutkan perjuangan,” tutur Akhmad Hasan.

Setelah kembali ke Surabaya, La Hasan berangkat ke Kalimantan Timur. Di wilayah ini, ia kembali diburu KNIL yang berupaya merekrutnya. Penolakan La Hasan membuatnya memilih bergerilya. Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat dipaksa menjadi romusha sebelum akhirnya melarikan diri ke Samarinda dan Anggana.

Di Anggana, La Hasan menyusun strategi untuk memperoleh senjata dengan bergabung dalam kesatuan tentara Jepang. Berkat kemampuannya mengemudikan kapal patroli, ia dipercaya menjalankan tugas. Dalam sebuah kesempatan, La Hasan mengambil alih kapal patroli beserta persenjataannya, yang kini tersimpan di Museum Sangasanga.

La Hasan kemudian bergabung dengan kelompok pejuang di Sangasanga bersama Abdu Muhara dan Munawar. Pada 26 Januari 1947, mereka berhasil menguasai Sangasanga dengan menurunkan bendera Belanda di wilayah Muara Sangasanga dan mengibarkan Merah Putih.

Namun keesokan harinya, 27 Januari 1947, KNIL melancarkan serangan besar-besaran. Tujuh kapal pendarat dikerahkan dan pertempuran sengit pun terjadi. Perlawanan rakyat dengan persenjataan terbatas dibalas secara brutal, menyebabkan banyak pejuang dan warga sipil gugur.

Untuk memaksa La Hasan menyerahkan diri, KNIL menahan istri dan anak pertamanya. Demi keselamatan keluarganya, La Hasan akhirnya menyerahkan diri dan kemudian mengalami penyiksaan berat sebelum berhasil diselamatkan oleh kerabatnya.

Setelah meloloskan diri, La Hasan mendirikan markas perjuangan baru di kawasan Gunung Radio, Balikpapan, yang kini dikenal sebagai Gunung Guntur. Ia kembali memimpin perlawanan terhadap pasukan KNIL hingga kondisi kesehatannya menurun.

Atas jasanya, La Hasan menerima sedikitnya 14 piagam penghargaan serta sejumlah medali kemerdekaan, termasuk penghargaan langsung dari Presiden Soekarno. Ia juga pernah mengemban pangkat perwira dalam Tentara Nasional Indonesia.

La Hasan wafat pada 1999 dalam usia 76 tahun. Meski telah lama berpulang, kiprah dan pengorbanannya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Peristiwa Merah Putih Sangasanga dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram