Penulis : SultanAL
TENGGARONG – Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Ahmad Yani, angkat bicara mengenai kepindahan Bupati Kutai Kartanegara dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ia menilai langkah tersebut mengejutkan sekaligus disayangkan oleh para kader PDIP di daerah.
Menurut Yani, sejak awal sang bupati diusung dan diberikan karpet merah oleh PDIP hingga akhirnya menduduki jabatan sebagai Bupati Kutai Kartanegara. Karena itu, ia menilai perpindahan partai yang terjadi sebelum genap satu tahun masa kepemimpinan tersebut menjadi keputusan pribadi yang sulit diterima oleh banyak kader.
“Dari awal komitmennya sebagai kader PDI Perjuangan. Belum sampai setahun menjadi bupati, PDIP yang memberikan karpet merah, bukan yang lain,” ujar Yani.
Meski begitu, Yani menegaskan bahwa pilihan politik adalah hak setiap individu, dan PDIP tidak berada dalam posisi untuk menolak ataupun mencegah kepindahan tersebut. Namun ia mengingatkan bahwa keputusan itu tetap memiliki konsekuensi politik, terutama bagi partai yang ditinggalkan.
“Tentu kami dari kader PDIP sangat menyayangkan. Beliau itu menjadi lokomotif, menjadi kader terbaik di Kutai Kartanegara karena bisa jadi bupati. Tapi setelah jadi bupati pindah, ya itu kembali ke yang bersangkutan,” tambahnya.
Yani menyebut langkah itu menjadi pukulan bagi PDIP Kutai Kartanegara.
“Pada intinya, kami seluruh kader sangat menyayangkan dan ini menjadi duka bagi PDI Perjuangan di Kutai Kartanegara,” tutupnya.



