Penulis : SultanAL
TENGGARONG – Kehadiran Taman Musik Kota Raja di Tenggarong menjadi babak baru bagi perkembangan ekosistem seni dan budaya di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Fasilitas publik ini dinilai sebagai langkah strategis pemerintah daerah dalam menyediakan ruang kreatif bagi seniman lokal untuk berekspresi sekaligus mendekatkan seni kepada masyarakat.
Apresiasi pun datang dari para pelaku seni. Ketua Yayasan Benaung Tenggarong, Eris Surianto—akrab disapa Kak Cuno—menilai Taman Musik Kota Raja sebagai wadah penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni tari serta musik tradisional Kutai.
“Secara filosofi, Benaung berarti tempat bernaung atau berteduh. Yayasan ini kami dirikan sejak 2011 sebagai ruang bagi seniman dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan bakat,” ujar Kak Cuno, Jumat (03/01/2026).
Saat ini, Yayasan Benaung membina sekitar 22 anggota yang tersebar hingga wilayah pinggiran Tenggarong. Menurutnya, keberadaan fasilitas seni di pusat kota menjadi solusi atas kendala jarak dan akses yang selama ini dihadapi para anggota.
“Karena anggota kami tersebar, lokasi di tengah kota seperti ini sangat memudahkan untuk berkumpul dan berkarya bersama,” jelasnya.
Lebih jauh, Kak Cuno menilai Taman Musik Kota Raja sebagai bukti nyata perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan seni lokal. Fasilitas ini, kata dia, bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan juga simbol apresiasi bagi para seniman daerah.
“Alhamdulillah, ini fasilitas yang luar biasa megah dari pemerintah. Ini menjadi wadah kami untuk menyalurkan bakat dan menyampaikan karya. Harapannya, masyarakat juga bisa hadir dan memberikan apresiasi,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa tersedianya fasilitas yang representatif harus diimbangi dengan peningkatan profesionalisme para seniman.
“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk lebih disiplin dalam berlatih. Karena fasilitas sudah tersedia, tentu harus ada karya berkualitas yang kami tampilkan kepada publik,” pungkasnya.



