Tongkang Batu Bara Diduga Senggol Jembatan Martadipura, Miskomunikasi Jadi Penyebab

Penulis : SultanAL

Bebaca.id,TENGGARONG — Insiden tongkang bermuatan batu bara yang diduga menyenggol Jembatan Martadipura di Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, disebut dipicu kesalahan koordinasi terkait kondisi ketinggian air sungai dan tinggi muatan tongkang.

Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Liang, Ahmadi, mengatakan benturan tidak terjadi pada badan kapal, melainkan pada muatan batu bara yang terlalu tinggi saat permukaan air sungai sedang naik akibat banjir.

“Bukan kapalnya yang menabrak, tapi muatan batu baranya karena air sedang naik,” ujar Ahmadi saat dikonfirmasi, Selasa (20/1/2026).

Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi antara Kamis atau Jumat. Saat itu, menurut Ahmadi, ketinggian air belum dianggap mencapai batas aman sehingga belum dilakukan pemangkasan muatan tongkang.

Biasanya, kata dia, pemangkasan muatan dilakukan ketika jarak antara permukaan air dan bagian bawah jembatan mencapai delapan meter. Kegiatan tersebut kerap dilakukan oleh pemuda setempat sebagai langkah pencegahan.

“Kalau air sudah sampai delapan meter di bawah jembatan, itu wajib dipangkas,” jelasnya.

Selain pemangkasan, lalu lintas tongkang juga umumnya dibatasi ketika debit air sungai meningkat. Dalam kondisi tertentu, aktivitas penarikan tongkang hanya diperbolehkan hingga sore hari.

“Kalau air tinggi, biasanya hanya boleh sampai jam lima sore, tidak sampai malam,” tambahnya.

Namun pada kejadian ini, pihak pengangkut menilai tinggi muatan masih dalam batas aman sehingga tongkang tetap melintas tanpa pemangkasan.

“Mereka bilang muatannya sudah rendah, jadi belum dipangkas,” kata Ahmadi.

Ia menambahkan, hingga insiden terjadi belum ada aktivitas pemangkasan muatan di wilayah Desa Liang. Pemangkasan justru dilakukan oleh tim lain di kawasan Rimba Ayu, yang kondisi airnya berbeda.

Menurutnya, perbedaan ketinggian air di sejumlah titik sungai sering kali memicu kesalahpahaman antarpihak.

“Di daerah lain air bisa sudah surut, tapi di Kota Bangun masih tinggi. Itu yang kadang bikin salah perhitungan,” ujarnya.

Ahmadi mengaku tidak berada di lokasi saat kejadian. Informasi insiden tersebut ia peroleh dari pemandu kapal yang berada di sekitar jembatan.

“Saya ditelepon pemandu kapal di jembatan. Katanya muatan batu baranya memang seharusnya dipangkas,” tutupnya.

Foto : Ilustrasi Kapal Tongkang

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram