Bebaca.id, TENGGARONG — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyatakan kondisi inflasi daerah masih dalam batas aman. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kukar.
Menurut Sunggono, meskipun data terkini masih menunggu pembaruan, secara umum tingkat inflasi di Kukar tetap terjaga di bawah angka 3 persen.
“Secara keseluruhan, inflasi di Kukar masih berada di bawah 3 persen,” kata Sunggono, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, pergerakan inflasi di Kukar cenderung dipengaruhi faktor yang sama setiap bulannya. Fluktuasi harga komoditas pangan menjadi pemicu utama, khususnya pada daging ayam, ikan, cabai, dan bawang merah.
“Komoditas tersebut paling sering memengaruhi inflasi. Polanya hampir sama setiap bulan, hanya saja komoditas yang dominan bisa berbeda,” ujarnya.
Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, Sunggono menilai dampaknya terhadap inflasi daerah relatif kecil. Pasalnya, sebagian besar komoditas penyumbang inflasi di Kukar berasal dari produksi lokal, bukan impor.
“Perubahan nilai tukar biasanya bersifat jangka pendek. Selain itu, bahan pangan yang memicu inflasi di Kukar mayoritas berasal dari dalam daerah, sehingga pengaruhnya tidak terlalu signifikan,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui ada sejumlah komoditas yang masih bergantung pada impor, seperti kedelai. Kondisi ini membuat harga komoditas tersebut rentan terdampak fluktuasi nilai tukar.
“Untuk komoditas seperti kedelai yang masih impor, tentu akan terpengaruh jika nilai tukar dolar mengalami kenaikan,” tambahnya.
Sebagai upaya menjaga stabilitas harga, Pemerintah Kabupaten Kukar terus mengintensifkan program Gerakan Pangan Murah (GPM). Program ini diharapkan mampu membantu masyarakat sekaligus menekan laju inflasi.
“GPM terus kami jalankan. Berdasarkan laporan terakhir, program ini masih berlangsung untuk menjaga kestabilan harga di masyarakat,” tutupnya.



