Bebaca.id, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat pasar modal nasional setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan hingga ke level 7.000-an sebelum kembali menguat ke kisaran 8.000. Arahan tersebut disampaikan langsung Presiden Prabowo Subianto dan dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Airlangga menjelaskan, Presiden Prabowo secara aktif memantau dinamika bursa yang dipengaruhi sentimen global, termasuk penilaian lembaga internasional seperti MSCI, UBS, dan Goldman Sachs terhadap pasar Indonesia.
“Presiden mengikuti perkembangan pasar modal dan memberikan arahan untuk melakukan transformasi struktural di Bursa Efek Indonesia agar lebih kuat dan kredibel,” kata Airlangga usai rapat koordinasi di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat.
Salah satu langkah utama yang ditekankan adalah percepatan proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Kebijakan ini dinilai penting untuk memisahkan kepentingan pengelola bursa dengan anggota bursa sehingga potensi konflik kepentingan dan praktik pasar tidak sehat bisa diminimalkan.
“Demutualisasi akan membuka ruang investasi yang lebih luas, termasuk dari Danantara dan lembaga lain. Dasarnya sudah ada dalam UU P2SK dan ke depan bisa dilanjutkan dengan bursa go public,” jelas Airlangga.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan tata kelola dan transparansi melalui peningkatan porsi saham beredar di publik. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia diarahkan menyiapkan aturan agar ketentuan free float emiten naik dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
“Kenaikan free float ini ditargetkan mulai berlaku sekitar Maret, sehingga pasar menjadi lebih terbuka dan menarik bagi investor,” ujarnya.
Menurut Airlangga, dengan batas free float 15 persen, Indonesia akan sejajar bahkan lebih kompetitif dibanding beberapa negara lain. Saat ini Singapura, Filipina, dan Inggris masih berada di kisaran 10 persen, sementara Malaysia, Hongkong, dan Jepang telah menerapkan sekitar 25 persen.
Langkah berikutnya adalah peningkatan porsi investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal. Pemerintah berencana menaikkan batas investasi dari sebelumnya 8 persen menjadi 20 persen agar likuiditas pasar lebih kuat dan partisipasi investor domestik meningkat.
“Kebijakan ini sejalan dengan praktik negara-negara OECD. Dengan regulasi yang lebih adaptif, pasar modal kita diharapkan semakin adil, transparan, dan kompetitif di mata global,” papar Airlangga.
Ia menegaskan, pemerintah tetap optimistis terhadap fundamental ekonomi nasional. Menurutnya, stabilitas makro dan fiskal Indonesia masih terjaga sehingga berbagai kebijakan tersebut diharapkan mampu memperkuat kepercayaan investor di tengah gejolak pasar global.
“Transformasi ini menjadi sinyal bahwa Indonesia serius membangun pasar modal yang sehat dan berdaya saing tinggi,” tutup Airlangga.
sumber : https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8332685/prabowo-turun-tangan-pantau-bursa-ri-ini-instruksinya



