Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto,

Anak Sekolah di Marangkayu Andalkan Kereta Katrol untuk Seberangi Sungai


TENGGARONG – Puluhan pelajar di Dusun Damai, Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, setiap hari harus menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung katrol demi menuju sekolah.

Sarana penyeberangan sederhana itu menjadi akses utama menuju SD 021 dan SD 024. Kereta kecil tersebut bergerak di atas bentangan kabel dan dioperasikan secara manual oleh warga.

Fasilitas tersebut bukan proyek resmi pemerintah, melainkan hasil swadaya masyarakat yang telah digunakan sekitar dua hingga tiga tahun terakhir. Pembiayaannya berasal dari Alokasi Dana Desa (ADD) dan dikelola secara gotong royong.

Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, mengatakan kebutuhan jembatan permanen sudah lama diusulkan. Namun hingga kini belum ada realisasi pembangunan.

“Sudah kami usulkan, tapi belum ada kejelasan anggarannya. Harapannya bisa segera diperhatikan,” ujar Heri, Jumat (27/2/2026).

Menurut dia, terdapat dua titik infrastruktur yang mendesak untuk diperbaiki. Pertama, jembatan rusak di RT 16 yang menjadi akses kendaraan roda dua dan roda empat menuju tempat ibadah. Kedua, fasilitas kereta gantung katrol di RT 009 Dusun Damai yang setiap hari digunakan anak-anak untuk bersekolah.

Di Desa Santan Ulu sendiri terdapat lima unit kereta gantung katrol yang tersebar di sejumlah titik penyeberangan sungai. Selain dimanfaatkan pelajar, sarana tersebut juga digunakan warga untuk menuju kebun serta mengangkut hasil panen.

“Yang paling utama memang untuk akses anak sekolah,” tegasnya.

Heri menyebut, infrastruktur tersebut sebelumnya telah ditinjau oleh mantan Bupati Kutai Kartanegara, Edi Damansyah. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) juga sempat melakukan pendataan kebutuhan pembangunan jembatan.

Ia juga menyinggung program prioritas pembangunan infrastruktur dasar yang pernah digaungkan Presiden Prabowo Subianto, termasuk rencana pembangunan jembatan bagi anak sekolah di wilayah terpencil. Namun hingga kini, pembangunan yang diharapkan belum terealisasi.

Kebutuhan jembatan permanen tidak hanya di Dusun Damai, tetapi juga di Dusun Wonorejo. Pemerintah desa berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat segera mengambil langkah konkret.

Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya tantangan pembangunan infrastruktur dasar di wilayah pedesaan. Di tengah semangat swadaya masyarakat, risiko keselamatan tetap membayangi anak-anak yang setiap hari menyeberangi sungai untuk menuntut ilmu.

“Harapan kami bisa segera direalisasikan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan,” pungkas Heri.

Foto : ist

Penulis: Penulis : SultanAL

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?