Bebaca.id, TENGGARONG – Satu tahun menjabat sebagai anggota DPRD Kutai Kartanegara, Rahmat Dermawan merefleksikan perjalanan pengabdiannya melalui sebuah film dokumenter berjudul Penyambung Lidah Rakyat yang segera diputar untuk masyarakat di daerah pemilihannya.
Film tersebut merangkum berbagai aktivitas Rahmat selama menjabat, mulai dari advokasi masyarakat, pengawalan program pemerintah, hingga fasilitasi warga dalam mengakses program pembangunan. Dokumentasi itu, menurut Rahmat, dihimpun oleh relawan dan timnya sejak awal masa jabatan.
“Perjalanan itu kemudian kami rangkai menjadi sebuah cerita dalam film berjudul Penyambung Lidah Rakyat. Tagline tersebut sudah saya gunakan sejak masa kampanye,” ujarnya.
Ia menjelaskan, judul film diambil dari komitmen yang sejak awal diusungnya sebagai wakil rakyat. Sebutan tersebut, kata dia, kerap disampaikan kembali oleh masyarakat dan rekan-rekannya selama dirinya menjabat.
Rahmat menyebut, film ini juga menjadi pengingat atas latar belakang kehidupannya sebelum terjun ke dunia politik. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana, dengan orang tua yang berprofesi sebagai pedagang dan petani.
Selain itu, ia mengaku terinspirasi dari buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang mengangkat kisah Soekarno. Buku tersebut, lanjutnya, memberinya pemahaman mengenai peran politik dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
Film dokumenter itu telah rampung diproduksi dan trailer-nya telah dirilis. Seusai Lebaran, Rahmat bersama tim berencana menggelar pemutaran bersama di sejumlah wilayah daerah pemilihannya, yakni Kecamatan Samboja, Samboja Barat, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga. Kegiatan tersebut akan melibatkan tokoh masyarakat, kelompok warga, serta kalangan pemuda.
Menurut Rahmat, film ini juga memuat pesan edukasi politik, termasuk gambaran proses perumusan kebijakan dan pelaksanaan amanah publik oleh pejabat terpilih.
Ia berharap, film tersebut dapat mendorong masyarakat, khususnya generasi muda di wilayah pesisir, untuk memandang politik secara lebih substantif dan tidak sekadar pragmatis.
“Baik atau buruknya kebijakan yang kita rasakan hari ini berawal dari keputusan politik yang diambil sebelumnya,” katanya.
TENGGARONG — PDI Perjuangan Cabang Kutai Kartanegara (Kukar) memperkenalkan wajah baru kantor mereka kepada awak media, Selasa (3/3/2026). Pembaruan tersebut diklaim sebagai langkah menghadirkan ruang politik yang lebih terbuka dan partisipatif bagi masyarakat.
Peresmian konsep kantor baru itu dikemas dalam dialog bersama insan pers. Para wartawan diajak meninjau langsung sejumlah fasilitas yang telah diperbarui, mulai dari area diskusi terbuka hingga sudut literasi dan ruang baca yang disiapkan sebagai ruang publik.
Wakil Sekretaris Bidang Program DPC PDI Perjuangan Kukar, Rahmat Dermawan, menyebut perubahan tersebut bukan sekadar renovasi fisik. Menurutnya, desain kantor yang lebih modern menjadi simbol komitmen partai dalam mendorong keterlibatan publik, khususnya generasi muda.
“Kami ingin kantor ini menjadi ruang bersama, tempat lahirnya ide dan gagasan. Generasi Z dan milenial harus melihat politik sebagai ruang aktualisasi, bukan sesuatu yang dijauhi,” ujar Rahmat.
Ia menjelaskan, kantor partai ke depan akan difungsikan sebagai wadah berbagai kegiatan, seperti diskusi publik, literasi, hingga pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bahkan, ruang tersebut dirancang untuk mendukung kegiatan hiburan rakyat sebagai bagian dari pendekatan politik yang lebih humanis.
Menurut Rahmat, keterbukaan menjadi strategi penting agar partai tetap relevan dengan dinamika sosial dan kebutuhan masyarakat. Ia berharap keberadaan ruang yang lebih inklusif dapat memperluas partisipasi publik dalam proses politik di daerah.
Melalui pembaruan tersebut, DPC PDI Perjuangan Kukar menegaskan komitmennya membangun budaya politik yang dialogis dan inklusif, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan daerah.
[15:24, 3/4/2026] +62 812-5101-9535: Penulis : SultanAL
Rahmat Dermawan Luncurkan Film Dokumenter Refleksi Setahun Kinerja di DPRD Kukar
TENGGARONG – Satu tahun menjabat sebagai anggota DPRD Kutai Kartanegara, Rahmat Dermawan merefleksikan perjalanan pengabdiannya melalui sebuah film dokumenter berjudul Penyambung Lidah Rakyat yang segera diputar untuk masyarakat di daerah pemilihannya.
Film tersebut merangkum berbagai aktivitas Rahmat selama menjabat, mulai dari advokasi masyarakat, pengawalan program pemerintah, hingga fasilitasi warga dalam mengakses program pembangunan. Dokumentasi itu, menurut Rahmat, dihimpun oleh relawan dan timnya sejak awal masa jabatan.
“Perjalanan itu kemudian kami rangkai menjadi sebuah cerita dalam film berjudul Penyambung Lidah Rakyat. Tagline tersebut sudah saya gunakan sejak masa kampanye,” ujarnya.
Ia menjelaskan, judul film diambil dari komitmen yang sejak awal diusungnya sebagai wakil rakyat. Sebutan tersebut, kata dia, kerap disampaikan kembali oleh masyarakat dan rekan-rekannya selama dirinya menjabat.
Rahmat menyebut, film ini juga menjadi pengingat atas latar belakang kehidupannya sebelum terjun ke dunia politik. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana, dengan orang tua yang berprofesi sebagai pedagang dan petani.
Selain itu, ia mengaku terinspirasi dari buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang mengangkat kisah Soekarno. Buku tersebut, lanjutnya, memberinya pemahaman mengenai peran politik dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
Film dokumenter itu telah rampung diproduksi dan trailer-nya telah dirilis. Seusai Lebaran, Rahmat bersama tim berencana menggelar pemutaran bersama di sejumlah wilayah daerah pemilihannya, yakni Kecamatan Samboja, Samboja Barat, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga. Kegiatan tersebut akan melibatkan tokoh masyarakat, kelompok warga, serta kalangan pemuda.
Menurut Rahmat, film ini juga memuat pesan edukasi politik, termasuk gambaran proses perumusan kebijakan dan pelaksanaan amanah publik oleh pejabat terpilih.
Ia berharap, film tersebut dapat mendorong masyarakat, khususnya generasi muda di wilayah pesisir, untuk memandang politik secara lebih substantif dan tidak sekadar pragmatis.
“Baik atau buruknya kebijakan yang kita rasakan hari ini berawal dari keputusan politik yang diambil sebelumnya,” katanya.



