Penulis : SultanAL
TENGGARONG – Pelaksanaan Musyawarah Anak Cabang (Musancab) DPC PDI Perjuangan Kutai Kartanegara tidak hanya berfokus pada agenda politik, tetapi juga menghadirkan nuansa budaya melalui peragaan busana Batik Melayu Kutai, Sabtu (25/4/2026).
Pemilik Batik Melayu Kutai, Imam Marjoto, mengatakan keterlibatannya dalam kegiatan tersebut bermula dari undangan panitia yang diterimanya beberapa hari sebelum acara berlangsung. Ia diminta menampilkan karya batik khas Kutai Kartanegara sebagai bagian dari rangkaian acara.
“Saya dihubungi panitia pada hari Senin untuk berpartisipasi. Diminta menampilkan Batik Melayu Kutai, sehingga saya langsung menyiapkan koleksi yang akan dibawakan,” ujarnya.
Dalam penampilannya, Imam menghadirkan lima pasang busana pria dan wanita atau total sepuluh outfit. Ia menyebut koleksi yang ditampilkan telah disesuaikan dengan tema kegiatan yang mengusung dominasi warna merah.
“Awalnya saya ingin menampilkan motif Keminting dan Jajak Cincin, tetapi karena konsepnya bernuansa merah, akhirnya saya sesuaikan dengan koleksi yang ada,” jelasnya.
Adapun motif yang diperagakan meliputi Jembatan Kutai Kartanegara, Kembang Janggut, Gula Gait, Legenda dan Olipan, serta Buah Lai. Motif-motif tersebut dipilih untuk merepresentasikan kekayaan budaya lokal Kutai Kartanegara.
Imam mengungkapkan, saat ini Batik Melayu Kutai telah memiliki sekitar 20 motif yang telah terdaftar dan mengantongi sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Namun dalam kesempatan tersebut, hanya sebagian yang ditampilkan sebagai representasi.
“Total motif kami sekitar 20 dan semuanya sudah bersertifikat HAKI. Di acara ini, saya tampilkan lima motif sebagai perwakilan ciri khas daerah,” katanya.
Ia menegaskan, keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut tidak sekadar memenuhi undangan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Melayu Kutai melalui batik yang dikembangkannya.
“Batik Melayu Kutai mengangkat kearifan lokal Melayu. Ini yang menjadi pembeda, karena umumnya batik Kalimantan identik dengan motif Dayak,” ungkapnya.
Menurutnya, konsep tersebut sempat menimbulkan pertanyaan pada awal pengembangannya. Meski demikian, ia tetap konsisten mengangkat identitas budaya Melayu Kutai sebagai bagian dari kekayaan daerah.
Upaya promosi Batik Melayu Kutai sendiri telah dilakukan di berbagai kota, seperti Surabaya, Solo, Yogyakarta, Jakarta, Palu, hingga Lampung. Ia juga menyebut Yogyakarta sebagai salah satu pusat aktivitas pengembangan batiknya.
“Sebagian besar promosi masih menggunakan biaya pribadi. Namun itu tidak menjadi kendala karena ini bagian dari upaya memperkenalkan budaya daerah,” tuturnya.
Ke depan, Imam berharap kegiatan serupa dapat dipersiapkan lebih optimal, khususnya dalam penentuan tema agar karya yang ditampilkan semakin selaras dengan konsep acara.
“Harapannya ke depan, persiapan bisa lebih matang sehingga karya yang ditampilkan benar-benar sesuai dengan tema kegiatan,” pungkasnya.



