Bebaca.id, TENGGARONG — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menaruh perhatian serius terhadap masih ditemukannya ribuan warga yang tergolong dalam kategori kemiskinan ekstrem berdasarkan data desil satu pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, usai menerima laporan dalam pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Ia mengaku terkejut lantaran masih terdapat sekitar 13 ribu masyarakat Kukar yang masuk dalam kelompok desil satu.
“Pada saat Musrenbang kami mendapat laporan masih ada sekitar 13 ribu warga Kukar yang berada di desil satu di database pemerintah. Kami sempat mengira kemiskinan ekstrem di Kukar sudah tidak ada lagi,” kata Aulia.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian penting pemerintah daerah mengingat Kukar merupakan wilayah yang memiliki sumber daya alam melimpah serta didukung banyak perusahaan besar.
Aulia menegaskan, Pemkab Kukar akan terus melakukan langkah intervensi guna membantu masyarakat yang masih berada pada kategori miskin ekstrem. Salah satunya melalui program RT Ku Terbaik yang dijalankan untuk memetakan wilayah-wilayah yang masih mengalami persoalan kemiskinan.
“Karena itu kami menjalankan program RT Ku Terbaik untuk mengetahui titik-titik kemiskinan yang masih terjadi. Kalau memang masih ada masyarakat miskin ekstrem di Kukar, maka itu harus dibantu dan diintervensi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah sejauh ini telah menggulirkan sejumlah program yang menyasar masyarakat kurang mampu. Program tersebut di antaranya Alokasi Dana Desa (ADD), Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD), hingga berbagai program bantuan yang dijalankan organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kami punya banyak perusahaan, ada program RT Ku Terbaik, ADD, BKKD, dan program di masing-masing OPD. Rasanya malu kalau di Kukar masih ada 13 ribu warga yang berada di desil satu,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Aulia juga meminta dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur agar pemerintah kabupaten dapat lebih mudah mengakses data masyarakat berdasarkan kategori desil.
Menurut dia, keterbatasan akses terhadap data tersebut menjadi hambatan dalam penyusunan program bantuan yang tepat sasaran.
“Kami berharap ada kemudahan akses data desil satu sampai desil lima. Tujuannya agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat kepada masyarakat yang membutuhkan. Sampai hari ini kami masih cukup kesulitan memperoleh data tersebut,” tutupnya.



