Bebaca.id, TENGGARONG – Festival Erau Adat Kutai 2026 resmi masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN) setelah melalui proses kurasi yang melibatkan para pakar. Festival budaya tahunan di Kutai Kartanegara (Kukar) itu dinilai memiliki potensi untuk menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Festival Erau Adat Kutai 2026 dibuka di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Minggu (20/9/2026). Pembukaan ditandai dengan gema Sabda Pandita dan pemukulan gong oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, Sultan Aji Muhammad Arifin.
Sebelum seremoni pembukaan, rangkaian sakral Erau telah dimulai melalui prosesi pendirian Tiang Ayu. Sementara agenda di Stadion Rondong Demang menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan dimulainya rangkaian festival adat tersebut.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, Erau tidak hanya berkaitan dengan kemeriahan sebuah festival tahunan. Menurutnya, setiap tradisi yang dijalankan menyimpan nilai sejarah dan identitas masyarakat Kutai.
“Erau bukan sekadar pesta adat tahunan atau tontonan belaka. Erau adalah simpul warisan leluhur, fondasi identitas, dan mata rantai peradaban Kutai yang melintasi zaman,” kata Aulia.
Ia mencontohkan tradisi Beseprah yang mengajarkan kebersamaan melalui kegiatan makan bersama tanpa membedakan pangkat maupun kedudukan.
“Melalui tradisi Beseprah, kita duduk bersama, makan bersama, dan merasakan kebersamaan tanpa memandang pangkat maupun kedudukan,” ujarnya.
Nilai serupa juga terdapat dalam tradisi Beluluh yang mengandung pesan penyucian diri, membersihkan hati, menghilangkan prasangka dan mempererat persaudaraan.
Aulia menilai nilai-nilai tersebut menjadi alasan Erau perlu terus dijaga agar identitas budaya Kutai tidak kehilangan pijakan di tengah perubahan zaman.
“Sebuah bangsa atau daerah tidak akan memiliki pijakan yang kokoh tanpa identitas kebudayaannya. Tanpa tradisi yang kuat, kita akan mudah tergerus oleh perubahan zaman,” tuturnya.
Sementara itu, Asisten Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata II Kementerian Pariwisata, Dwi Marhen Yono, yang mewakili Menteri Pariwisata, menjelaskan proses masuknya Erau dalam agenda KEN.
Ia mengatakan, dari sekitar 3.600 event yang dikurasi bersama para pakar, sebanyak 125 event dipilih untuk masuk dalam KEN, termasuk Festival Erau Adat Kutai 2026.
“Dari 3.600 event kita kurasi dengan para pakar. Erau ini masuk 125 event terbaik dan alhamdulillah Festival Erau Adat Kutai 2026 bisa masuk dalam KEN,” kata Dwi.
Menurut Dwi, masuknya Erau dalam KEN merupakan bentuk apresiasi terhadap Kesultanan Kutai Kartanegara, Pemkab Kukar serta para tokoh budaya yang selama ini menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
Ia juga menyebut penyelenggaraan 125 event KEN pada tahun sebelumnya mencatat perputaran uang sekitar Rp7,1 triliun. Angka tersebut, menurutnya, menggambarkan potensi ekonomi yang dapat muncul dari penyelenggaraan event pariwisata.
Dwi mengatakan budaya menjadi salah satu faktor yang mendorong wisatawan mancanegara memilih Indonesia sebagai destinasi.
“Alasan yang pertama, bukan lagi alam yang indah. Tapi yang pertama adalah culture atau budaya,” katanya.
Karena itu, ia berharap Erau tidak hanya menjadi tujuan kunjungan wisatawan selama festival berlangsung. Wisatawan juga diharapkan memperpanjang kunjungan dengan menikmati kuliner, alam serta kehidupan masyarakat di Kukar.
“Event itu menjadi magnet untuk orang yang datang. Tinggal nanti PR-nya Pak Bupati bagaimana mereka bisa lama dan menikmati indahnya budaya dan juga alam serta masyarakat berbudaya,” tuturnya.
Aulia menambahkan, Erau Adat Kutai 2026 mengusung tema “Raja Manunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya.” Tema tersebut menggambarkan hubungan antara pemimpin dan masyarakat yang tercermin dalam tradisi serta kehidupan masyarakat Kutai.
Pemkab Kukar berharap seluruh rangkaian Erau berjalan lancar dan tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Festival ini diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya Kutai sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan diteruskan oleh generasi berikutnya.



