Maskot MTQH XLVI Kaltim, Kadeka dan Kadeki.

Maskot Kadeka-Kadeki Bawa Pesan Gerakan Etam Mengaji di MTQH Kaltim

Bebaca.id, Tenggarong – Perpaduan harmonis antara kekayaan jejak sejarah kebudayaan dan nilai-nilai luhur Islami tersaji apik dalam balutan desain logo dan maskot Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadis (MTQH) XLVI tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2026. Melalui identitas visual tersebut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak sekadar memosisikan diri sebagai tuan rumah, melainkan turut membawa pesan syiar Al-Qur’an yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kukar, Sunggono, membedah secara rinci rentetan makna filosofis yang sengaja disematkan dari ragam identitas khas Kutai Kartanegara.

Sorotan utama jatuh pada siluet Masjid Jami’ yang dijadikan latar maskot sekaligus bagian integral dari logo MTQH. Masjid monumental ini rupanya memiliki kaitan sejarah yang teramat erat dengan embrio perkembangan Islam di ibu kota Kukar, Tenggarong.

“Masjid yang ada di belakang Bapak-Ibu sekalian, di depan pendopo ini. Masjid pertama yang awalnya merupakan musala yang dibangun oleh Pangeran Noto Igomo, penyiar agama Islam yang ada di Kutai Kartanegara,” jelas Sunggono, Selasa (3/11/2026).

Berawal dari sebuah musala sederhana, bangunan tersebut berevolusi menjadi Masjid Jami’ yang berdiri kokoh pada tahun 1874. Kehadiran ikon masjid ini menjadi alarm pengingat akan panjangnya estafet syiar Islam di bumi etam, sekaligus menonjolkan fungsi sentral masjid sebagai rahim lahirnya generasi penerus yang Qur’ani.

Di samping pesona Masjid Jami’, maskot MTQH XLVI Kaltim 2026 turut dihidupkan oleh sepasang karakter anak laki-laki dan perempuan yang diberi nama Kadeka dan Kadeki.

Menariknya, kedua maskot cilik ini dibalut dengan pakaian Miskat, busana khas adat Kutai yang secara reguler wajib dikenakan oleh jajaran pejabat dan pegawai Pemkab Kukar setiap hari Kamis.

“Ini ada dua orang anak cewek dan cowok, kemudian baju yang digunakan itu baju miskat. Baju miskat itu baju khas Kutai yang di Kukar digunakan pada hari Kamis dan ditetapkan dalam peraturan bupati,” ujar Sunggono.

Detail maskot ini dikonsep dengan sangat teliti. Karakter Kadeki dipercantik dengan kalung aksesoris khas perempuan Kutai, sementara pada busana Kadeka terukir apik singkatan KD’Q (Keroan Dengsanak Qur’ani) yang merepresentasikan spirit persaudaraan warga Kukar dalam membumikan Al-Qur’an.

Sunggono menerangkan, karakter maskot ini sengaja dirancang untuk merepresentasikan gempita dukungan masyarakat terhadap program andalan pemerintah daerah, yakni Gerakan Etam Mengaji (GEMA), yang telah dipayungi secara resmi melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2021.

Dari segi pewarnaan, pulasan kelir hijau dan kuning mendominasi tubuh maskot. Dalam tatanan kebudayaan Kutai, perpaduan kedua warna ini menduduki kasta yang tinggi.

“Kalau di Kukar itu termasuk warna sakral, hijau dan kuning. Itu warna kedamaian dan warna kemakmuran,” ungkapnya.

Beralih ke desain logo, visual MTQH memadukan angka 46, pancaran sinar rembulan, kubah masjid, serta kitab suci Al-Qur’an. Jika ditarik garis lurus, keseluruhan ornamen ini membentuk siluet kobaran obor atau sehelai daun.

“Tulisannya ada angka 46, kemudian juga ada semacam logo bulan dan bintang, kemudian setelah keseluruhan itu menggambarkan seperti bentuk obor,” kata Sunggono.

Filosofinya sangat mendalam; obor melambangkan semangat persatuan yang menyala, bulan membawa pesan keberkahan dan kedamaian, sementara Al-Qur’an ditegaskan sebagai sumber ilmu dan cahaya petunjuk umat Islam. Guna membumikan pemahaman ini, pemerintah daerah berjanji akan menggencarkan sosialisasi makna logo tersebut ke publik.

“Insya Allah semua informasi tentang ini akan kami sampaikan melalui media cetak Media elektronik termasuk Medsos,” tegasnya.

Untuk menyempurnakan identitas penyelenggaraan, MTQH XLVI Kaltim 2026 mengangkat tema gagah berbunyi, “Dengan Berkah MTQH di Tanah Bertuah Mari Kita Wujudkan Generasi Emas Kalimantan Timur 2045”.

Usut punya usut, diksi ‘tanah bertuah’ ini tidak lahir dari ruang hampa. Frasa tersebut merupakan petikan langsung dari bait syair sakral Mars Kutai Kartanegara gubahan sang pemangku adat.

“Tadi kalau Bapak-Ibu menyimak Mars Kutai Kartanegara, di situ ada istilah tanah bertuah. Jadi insyaallah tentang tema ini pun kami ambil dari syair Mars Kutai Kartanegara yang diciptakan oleh Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” jelasnya.

Melalui kematangan konsep identitas ini, Sunggono menaruh asa agar pelaksanan MTQH kelak tidak hanya berorientasi pada pencarian gelar juara.

“Harapannya mudah-mudahan dengan pelaksanaan MTQH di tanah bertuah, kita bersama wujudkan Kalimantan Timur untuk generasi emas di tahun 2045,” pungkasnya.

Pemilihan identitas visual dan tema sarat makna ini pada akhirnya menegaskan bahwa perhelatan MTQH di tanah Kukar kelak bukan sekadar arena adu kepiawaian melantunkan ayat suci. Lebih jauh, ajang ini diproyeksikan menjadi tonggak bersejarah dalam merawat warisan budaya Kutai, sekaligus menjadi kawah candradimuka untuk mencetak generasi emas Kaltim yang cerdas, beradab, dan memegang teguh pedoman suci Al-Qur’an.

(*adv/diskominfo)

Editor : Reihan Noor

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?