Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Hingga Kamis (20/8) sore, korban meninggal dunia dilaporkan sebanyak 75 orang.

Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 75 Orang, Lebih dari 92 Ribu Warga Mengungsi

Bebaca.id, Jakarta – Dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus meluas. Data terbaru mencatat korban meninggal dunia bertambah menjadi 75 orang, sementara lebih dari 92 ribu warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka di tengah gempa susulan yang masih terjadi.

Dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (20/8/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat penambahan empat korban meninggal dibandingkan laporan sebelumnya yang berjumlah 71 orang.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan tambahan korban berasal dari tiga kabupaten di NTT.

“Di mana kemarin kami memberitakan 71 jiwa. Hari ini bertambah empat jiwa dengan rincian di Kabupaten Sikka bertambah dua, Kabupaten Manggarai bertambah satu, Nagekeo bertambah satu,” kata Berton dalam konferensi pers BNPB, Kamis (20/8/2026).

Selain korban meninggal, BNPB mencatat sebanyak 907 orang mengalami luka-luka. Dampak gempa susulan juga membuat jumlah warga yang mengungsi meningkat signifikan.

Jumlah pengungsi yang sebelumnya tercatat sebanyak 59.647 orang kini bertambah menjadi 92.735 orang.

“Saat ini, kami mencatat ada 92.735 jiwa, yang semula ada 59.647 jiwa,” ujarnya.

Penambahan pengungsi terbesar tercatat di Kabupaten Nagekeo dengan 21.883 orang. Kemudian Kabupaten Manggarai bertambah 9.649 orang dan Manggarai Barat sebanyak 1.556 orang.

Kerusakan akibat gempa juga berdampak luas terhadap sektor pendidikan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, melaporkan sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak.

Dari jumlah tersebut, sedikitnya 502 sekolah di tujuh kabupaten mengalami kerusakan berat. Dampaknya menyentuh aktivitas pendidikan 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.

“Di sektor pendidikan, gempa bumi berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan. Dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di 7 kabupaten yang meliputi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan,” kata Atip.

Aktivitas belajar mengajar pun belum sepenuhnya dapat berjalan normal. Sebanyak 923 sekolah diliburkan sementara, sedangkan 30 sekolah telah melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Sementara itu, 35 sekolah menjalankan kegiatan belajar melalui sekolah darurat dan 171 lainnya menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Kemendikdasmen juga mulai menyiapkan fasilitas belajar sementara bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Sebanyak 100 tenda ruang kelas akan didistribusikan secara bertahap untuk mendukung keberlangsungan kegiatan pendidikan.

“Pelaksanaan pembelajaran mengikuti kebijakan dari Gubernur NTT untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah dan di tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai karena gempa susulan yang masih terus berlangsung,” ujar Atip.

Dengan korban meninggal yang bertambah, puluhan ribu warga berada di pengungsian dan ratusan sekolah mengalami kerusakan berat, penanganan dampak gempa kini tidak hanya berfokus pada pencarian dan pelayanan korban. Pemenuhan kebutuhan pengungsi serta keberlangsungan pendidikan menjadi bagian dari penanganan berikutnya, terutama selama gempa susulan masih mengancam sejumlah wilayah NTT.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Apa yang Anda Cari?