TENGGARONG – Sebuah kapal bertingkat tenggelam di kawasan pelabuhan depan Museum Mulawarman, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kapal yang sebelumnya digunakan sebagai kapal wisata dan belakangan difungsikan sebagai kafe terapung itu diduga tenggelam akibat pompa kuras air tidak berfungsi karena tidak adanya aliran listrik.
Peristiwa tersebut diketahui terjadi pada Selasa (10/3/2026) pagi. Berdasarkan pantauan di lokasi, kapal masih berada di depan pelabuhan dengan kondisi sebagian besar badan kapal telah terendam air. Hanya bagian atas atau atap kapal yang masih terlihat di permukaan, sementara sejumlah barang dari dalam kapal tampak mengapung di sekitar lokasi.
Kanit Gakkum Satpolairud Polres Kukar, IPDA Rio Hedy Wiyatma, mengatakan penanganan serta proses evakuasi sementara ini diserahkan kepada pihak pemilik kapal.
Meski demikian, pihak kepolisian tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan di lapangan. “Salah satu pemilik yang mengoperasikan kafe di kapal tersebut sudah datang ke lokasi untuk dimintai keterangan,” ujarnya.
Rio menjelaskan, saat ini yang terlihat di permukaan hanya bagian atap kapal. Sementara kondisi badan kapal hingga bagian lunasnya belum dapat dipastikan apakah masih berada di posisi semula atau telah bergeser.
“Kami menilai kapal ini perlu segera dievakuasi untuk menghindari kemungkinan kerugian yang lebih besar. Jika dibiarkan terlalu lama, dikhawatirkan bagian kapal seperti kayu atau material lainnya bisa patah, terlepas, bahkan terseret arus sungai,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan pihak kepolisian dalam penanganan kejadian ini bersifat persuasif dan kekeluargaan, mengingat peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun dampak serius lainnya. Meski begitu, pihaknya tetap mendorong agar proses evakuasi segera dilakukan guna menghindari risiko lanjutan.
Selain itu, keberadaan kapal yang rusak di lokasi juga dikhawatirkan dapat menarik perhatian masyarakat yang penasaran. Kondisi tersebut berpotensi membahayakan apabila ada warga, terutama anak-anak, yang mencoba mendekati atau masuk ke bagian kapal yang telah rusak.
“Kami berharap pemilik kapal segera melakukan dan mengurus proses evakuasi,” tambahnya.
Berdasarkan informasi sementara dari personel Satpolairud, dugaan awal penyebab tenggelamnya kapal adalah adanya kebocoran pada badan kapal. Pada dasarnya setiap kapal dapat mengalami rembesan air, namun biasanya masih dapat diatasi selama pompa kuras berfungsi dengan baik.
Namun dalam kejadian ini diduga pasokan listrik pada kapal sempat padam sehingga pompa kuras yang menggunakan tenaga listrik tidak dapat bekerja. Akibatnya, air yang masuk ke dalam kapal tidak dapat dipompa keluar hingga akhirnya kapal tenggelam.
Sementara itu, jumlah kerugian akibat kejadian tersebut belum dapat dipastikan karena pihak pemilik kapal masih melakukan pendataan serta pengumpulan informasi terkait kerusakan yang terjadi.
Diketahui, kapal tersebut bukan kapal penumpang reguler, melainkan kapal wisata yang biasanya digunakan untuk kegiatan susur Sungai Mahakam, seperti perjalanan menuju wilayah Kota Bangun atau untuk melihat habitat Pesut Mahakam. Namun kapal tersebut sudah cukup lama tidak lagi beroperasi.
Selain itu, pelabuhan tempat kapal bersandar juga diketahui sudah tidak lagi aktif setelah aktivitas pelabuhan dipindahkan ke lokasi lain di seberang sungai.
“Musibah seperti ini memang tidak bisa diprediksi. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana proses penanganan dan evakuasi dapat segera dilakukan,” pungkas Rio.
Saat ini pihak kepolisian masih melakukan pengumpulan keterangan serta dokumentasi di lokasi kejadian. Langkah selanjutnya akan dikoordinasikan bersama pemilik kapal dan pihak terkait lainnya.



