Bebaca.id, KALIMANTAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Pulau Kalimantan kini membawa dampak lintas wilayah. Ribuan titik panas terdeteksi, proses pemadaman menghadapi berbagai kendala, satwa mulai terdampak, sementara kabut asap dilaporkan telah mencapai sejumlah wilayah di Malaysia.
Dilansir dari CNN Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.487 titik panas terdeteksi di Kalimantan hingga Kamis (20/8/2026).
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 767 titik panas, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik. Sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing tercatat 74 titik, serta Kalimantan Utara tiga titik.
Dampak karhutla tidak lagi terbatas di Indonesia. Berdasarkan Air Pollutant Index Management System (APIMS), Jumat (21/8/2026) pukul 20.00 waktu setempat, indeks kualitas udara di Serian, Sarawak, Malaysia mencapai 203 atau masuk kategori sangat tidak sehat.
Kualitas udara tidak sehat juga tercatat di Sri Aman dengan indeks 182, Kuching 172, Samarahan 171, Sarikei 168, Samalaju dan Bintulu masing-masing 156, serta Mukah 144.
Di tengah meluasnya kabut asap, petugas masih berjibaku mengendalikan kebakaran. Salah satu penanganan berat berlangsung di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan petugas harus menangani sedikitnya 22 titik kebakaran secara bersamaan di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang.
“Kondisi lapangan tidak mudah. Petugas menghadapi kendala sumber air yang jauh, keterbatasan selang, hingga gangguan pada mesin pemadam,” kata Multazam.
Kondisi medan turut memperberat penanganan. Sejumlah titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau sehingga petugas membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak untuk melakukan pemadaman serta pembasahan.
Besarnya ancaman karhutla di Kotim terlihat dari data kumulatif sepanjang 2026. BPBD Kotim mencatat 3.840 titik panas hingga 19 Agustus, sedangkan luas lahan yang terbakar hingga 18 Agustus mencapai sekitar 1.317,15 hektare.
Operasi pemadaman juga mulai berdampak terhadap kondisi relawan. Rizky Mubarrak, relawan asal Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sempat dilarikan ke IGD RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas dan kelelahan saat membantu memadamkan kebakaran.
Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, menyebut kondisi Rizky telah stabil setelah mendapatkan penanganan medis.
Ancaman karhutla juga menjalar terhadap kehidupan satwa. Tim Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang menemukan sejumlah satwa mati di kawasan terdampak kebakaran.
“Sejauh ini hewan atau satwa yang banyak ditemukan dalam kondisi mati akibat kebakaran hutan itu ular,” ujar Plt Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi.
Selain ular, seekor trenggiling ditemukan mati di tengah kawasan karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Kondisi habitat orangutan juga mulai menjadi perhatian. CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Jamartin Sihite, mengatakan titik kebakaran di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mulai mendekati sejumlah kawasan populasi orangutan.
“Di Kalimantan Barat sudah, di Kalimantan Tengah juga sudah mulai mendekat ke pusat-pusat populasi seperti dekat ke Taman Nasional Sebangau, di daerah Pulang Pisau, ini daerah-daerah yang juga ada orangutannya, dan cukup besar,” ujarnya.
Di Kotawaringin Timur, orangutan bahkan dilaporkan keluar dari habitatnya dan memasuki kawasan perkebunan warga. Pekatnya asap serta kebakaran di sekitar habitat diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong satwa tersebut mencari tempat lebih aman.
Karhutla juga berpotensi mengganggu ketersediaan makanan orangutan. Menurut Jamartin, semakin panjang periode kabut asap, semakin kecil peluang tanaman di hutan berbunga dan menghasilkan buah.
Dampaknya bahkan dapat bertahan jauh setelah kebakaran berhasil dipadamkan. Asap yang berlangsung selama dua hingga tiga bulan disebut dapat menyebabkan kelangkaan sumber makanan bagi satwa hingga enam atau tujuh bulan berikutnya.
Sementara untuk memulihkan vegetasi, prosesnya membutuhkan waktu jauh lebih panjang. Mengganti satu pohon yang terbakar disebut membutuhkan sedikitnya 15 tahun dengan perawatan memadai.
Pekatnya kabut asap juga memunculkan pemandangan berbeda di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Matahari pada Kamis (20/8/2026) sore terlihat menyerupai bola berwarna merah.
Prakirawan BMKG Palangka Raya, Chandra, menjelaskan fenomena tersebut dapat berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikel asap di atmosfer.
“Karena jika dilihat dari citra sebaran asap kemarin sore, terlihat wilayah Kalimantan Tengah sebagian besarnya sudah tertutup asap,” katanya.
Partikel tersebut memengaruhi cahaya matahari yang mencapai permukaan sehingga warna matahari dapat terlihat lebih kemerahan, terutama ketika posisinya semakin rendah.
Berbagai langkah penanganan kini dilakukan untuk menekan penyebaran kebakaran, mulai dari pemadaman darat dan udara hingga operasi modifikasi cuaca (OMC). Sejumlah pesawat turut dikerahkan untuk mendukung operasi pengendalian karhutla di Kalimantan.
Meluasnya karhutla kini tidak lagi sekadar tercermin dari banyaknya titik panas. Kabut asap yang menyeberang hingga Malaysia, relawan yang tumbang, satwa yang kehilangan habitat hingga ribuan hektare lahan terbakar menunjukkan dampak yang semakin kompleks. Selama kondisi kering masih berlangsung, pengendalian api dan pencegahan munculnya titik kebakaran baru menjadi pekerjaan besar di berbagai wilayah Kalimantan.



